Sistem Pemboran

15 02 2013

I. 1. Sistem Tenaga ( Power System )

Terdiri dari power supply equipments, yang dihasilkan oleh mesin – mesin besar yang dikenal dengan nama prime mover dan distribution equipments. Berfungsi untuk mendukung jalannya kegiatan pengeboran. Penggunaan prime mover ditentukan oleh besarnya tenaga pada sumur yang didasarkan pada casing program dan kedalaman sumur.

Prime mover 

Gambar I.1.  Prime mover.

 

I. 2. Sistem Angkat ( Hoisting System )

Fungsi utama dari sistem ini adalah memberikan ruang kerja yang cukup untuk pengangkatan dan penurunan rangkaian pipa bor dan peralatan lainnya. Sistem angkat terdiri dari dua bagian utama, yaitu :

I. 2. 1. Supporting Structure ( Rig )

Merupakan konstruksi menara yang ditempatkan di atas titik bor. Fungsi utamanya sebagai penyangga peralatan – peralatan pengeboran dan memberi ruang yang cukup untuk operasi pengeboran. Terdiri dari:

  • Drilling tower berfungsi untuk mendapatkan ruang vertikal yang cukup untuk menaikkan dan menurunkan rangkaian pipa bor dan casing ke dalam lubang bor selama operasi pengeboran berlangsung.
  • Substructure adalah konstruksi kerangka baja sebagai platform yang dipasang langsung diatas titik bor. Tinggi substructure ditentukan oleh jenis rig dan ketinggian blow out preventer (BOP) stack.
  • Rig floor ditempatkan diatas substructure. Berfungsi untuk menampung peralatan – peralatan pemboran yang kecil, tempat berdirinya menara, mendudukkan drawwork, tempat kerja driller, dan rotary helper.

1

Gambar I.2. Supporting Structure.

I. 2. 2. Hoisting Equipments

Terdiri dari :

  • Drawwork

Merupakan otak dari unit pengeboran, dimana seorang driller melakukan dan mengatur operasi pengeboran. Drawwork biasanya dihubungkan dengan prime mover dan diletakkan didekat meja putar.

  • Overhead Tools

Merupakan rangkaian sekumpulan peralatan yang terdiri dari crown block, traveling block, hook, dan elevator

 20121219_034245

Gambar I.3. Drawwork.

I. 3. Sistem Putar ( Rotary System )

Fungsi utamanya adalah untuk memutar rangkaian pipa bor. Terdiri dari :

II. 3. 1. Rotary Table

Dipasang pada lantai bor dengan posisi tegak lurus traveling block, bagian tengahnya terdapat lubang tempat master bushing dipasang.

II. 3. 2. Top Drive

Adalah peralatan yang digunakan untuk memutar pipa pengeboran. Terdiri dari beberapa bagian, antara lain: main motor, rotating head, gir, link, elevator, dll.

II. 3. 3. Swivel

Ujung teratas rangkaian pipa bor. Berfungsi untuk memberikan kebebasan pada pipa bor untuk berputar, memberikan perpaduan gerak vertikal dengan gerak berputar dapat bekerja bersama – sama, terangkai bersama dengan top drive.

II. 3. 4. Drill Pipe, Drill Collar, Bit

Drill pipe (DP) merupakan rangkaian pipa bor terpanjang (jumlah paling banyak dalam satu rangkaian pipa bor). Drill Collar (DC) berbentuk seperti drill pipe tetapi diameter dalamnya lebih kecil dan diameter luarnya sama dengan diameter luar DP. Sehingga dinding DC lebih tebal dari DP yang berfungsi sebagai pemberat. Bit merupakan ujung dari rangkaian pipa bor yang langsung menyentuh formasi dengan fungsi menghancurkan dan menembus formasi.

2

Gambar I.4. Rangkaian sistem putar.

I. 4. Sistem Sirkulasi ( Circulation System )

Tersusun oleh empat sub komponen utama, yaitu :

I. 4. 1. Drilling Fluid ( Lumpur Pengeboran )

Lumpur pengeboran pada mulanya berfungsi sebagai pembawa cutting dari dasar lubang bor ke permukaan. Lumpur pengeboran mempunyai fungsi penting dalam operasi pengeboran, antara lain :

  • Mengangkat cutting ke permukaan
  • Mengontrol tekanan formasi
  • Mendinginkan dan melumasi bit dan drill string
  • Memberi dinding pada lubang bor dengan mud cake
  • Menahan cutting saat sirkulasi dihentikan
  • Mengurangi sebagian berat rangkaian pipa bor
  • Mendapatkan informasi (mud logging, sample log)

I. 4. 2. Preparation Area

Ditempatkan pada tempat dimulainya sirkulasi lumpur, yaitu di dekat pompa lumpur, terdiri dari peralatan – peralatan yang diatur untuk memberikan fasilitas persiapan atau treatment lumpur bor yang meliputi mud house, steel mud pits, mixing hopper, chemical mixing barrel, water tanks, dan reserve pit.

I. 4. 3. Circulating Equipment

Berfungsi mengalirkan lumpur dari mud pit ke rangkaian pipa bor dan naik ke annulus membawa serbuk bor ke permukaan menuju ke solid control equipments, sebelum kembali ke mud pits untuk disirkulasikan kembali. Peralatannya terdiri dari mud pit, mud pump, pump discharge and return line, stand pipe, dan rotary hose.

I. 4. 4. Solid Control Equipment

Ditempatkan didekat rig. Terdiri dari peralatan – peralatan khusus yang digunakan untuk clean up lumpur bor setelah keluar dari lubang bor. Fungsi utamanya adalah memisahkan lumpur dari cutting dan gas yang terikut. Diantaranya adalah: shale shaker, degasser, desander dan desilter.

3

Gambar I.5. Solid Control Equipment.

I. 5. Sistem Pencegahan Semburan Liar (Blow Out Preventer System)

Semburan liar (blow out) adalah peristiwa mengalirnya fluida formasi dari dalam sumur secara tidak terkendali. Kejadian ini didahului dengan masuknya fluida formasi ke dalam lubang bor (well kick). Peralatan pencegah semburan liar ditempatkan pada kepala casing dibawah rotary table pada lantai bor. Komponen – komponen Blow Out Preventer (BOP) system terdiri dari :

I. 5. 1. BOP Stack

BOP stack (peralatan dengan valve bertekanan tinggi yang didesain untuk menahan tekanan lubang bor bila terjadi kick) meliputi :

  • Annular Preventer

Ditempatkan paling atas dari susunan BOP stack. Berisi rubber packing element yang dapat menutup annulus baik lubang dalam keadaan kosong atau ada rangkaian bor.

  • Pipe Ram Preventer

Menutup lubang bor pada waktu rangkaian pipa bor berada pada lubang. Pipe ram preventer memiliki tiga jenis yang berbeda, yaitu :

a. Pipe Ram (menutup sumur jika ada pipa ukuran tertentu).

b. Blind Ram (menutup sumur jika tidak ada pipa didalamnya).

c. Shear Ram (menutup sumur apabila terjadi kick dengan memotong pipa yang ada di dalamnya).

I. 5. 2. Accumulator

Ditempatkan pada jarak sekitar seratus meter dari rig, bekerja pada BOP stack dengan high pressure hydraulis. Pada saat terjadi kick, crew dapat dengan cepat menutup blow out preventer dengan menghidupkan kontrol pada accumulator atau remote pada panel yang terletak di lantai bor. Unit ini dijalankan pada saat crew sudah meninggalkan lantai bor.

I. 5. 3. Supporting System

Selain kedua hal diatas, terdapat supporting system untuk blow out, yaitu :

  • Choke Manifold

Bekerja pada BOP stack dengan high pressure line disebut choke line. Membantu menjaga back pressure dalam lubang bor untuk mencegah terjadinya intrusi fluida formasi.

  • Kill Line

Bekerja dengan BOP stack, lumpur berat dipompakan melalui kill line kedalam lumpur bor sampai tekanan hidrostatik lumpur dapat mengimbangi formasi.

20121219_082343

Gambar I.6. BOP Stack.

20121218_160011

Gambar I.7. Accumulator.

4

Gambar I.8. Choke Manifold.





Neuro-Linguistic Programming

14 02 2013

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa dapat belajar Neuro-Linguistic Programming (NLP). NLP ini merupakan teknologi yang mempelajari struktur internal seseorang dan bagaimana struktur tersebut bisa didesain untuk tujuan yang bermanfaat bagi orang tersebut. Bayangkan saja, dengan NLP kita dapat membuat model sukses yang kita inginkan. Ini pengalaman yang tidak akan saya lupakan dan ini kesempatan yang baik bagi saya untuk memulai model sukses seperti apa yang saya inginkan.

Dari NLP, saya mendapatkan manfaat antara lain:

  1. Lebih menikmati hidup karena berorientasi tujuan yang lebih jelas.
  2. Lebih cerdas emosional.
  3. Lebih cepat menyelesaikan masalah dan cepat berkeputusan.
  4. Mempunyai kemampuan komunikasi, membangun hubungan, negosiasi, dll.
  5. Dapat memimpin dan mengelola orang lain lebih baik.
  6. Kinerja lebih meningkat dari sebelumnya.
  7. Kreatifitas menjadi meningkat.

 

Dijaman globalisasi ini dan jaman yang mulai komplek kehidupannya, NLP adalah salah satu jalan keluar pendidikan yang sangat baik yang seharusnya mulai untuk dipelajari dan diterapkan mulai dini. Baik untuk diri sendiri, keluarga kita dan orang-orang disekitar kita.





ETIKA PERTAMBANGAN PADA INDUSTRI MINERAL LOGAM

3 11 2010

ETIKA PERTAMBANGAN

PADA INDUSTRI MINERAL LOGAM

PENDAHULUAN

Industri mineral merupakan salah satu kepentingan ekonomi di seluruh dunia, dimana di dalamnya termasuk usaha pertambangan yang diharapkan berwawasan lingkungan sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Secara global, ekonomi industri telah digunakan sebagai suatu sistem sumber daya terbuka melalui pemanfaatan bahan baku mineral dan energi; dengan pembuangan limbah berdampak pencemaran terhadap lingkungan. Tantangan yang dihadapi oleh komunitas global saat ini adalah membuat ekonomi industri lebih mengarah kepada sistem tertutup dengan sasaran: penghematan energi, mengurangi limbah, mencegah pencemaran, dan mengurangi biaya (UNO, 1995). Salah satu unsur penting yang diangkat dalam topik kali ini adalah : Limbah industri harus dianggap sebagai bahan baku berharga yang dapat diolah lebih lanjut atau dengan kata lain didaur ulang.

LIMBAH / TAILING PERTAMBANGAN

Limbah pertambangan atau disebut sebagai tailing merupakan residu yang berasal dari sisa pengolahan bijih setelah target mineral utama dipisahkan dan biasanya terdiri atas beraneka ukuran butir, yaitu: fraksi berukuran pasir, lanau, dan lempung. Secara umum pembuangan tailing dilakukan di lingkungan darat yaitu pada depresi topografi atau penampung buatan, sungai atau danau, dan laut. Secara mineralogi tailing dapat terdiri atas beraneka mineral seperti silika, silikat besi, magnesium, natrium, kalium, dan sulfida. Dari mineral-mineral tersebut, sulfida mempunyai sifat aktif secara kimiawi, dan apabila bersentuhan dengan udara akan mengalami oksidasi sehingga membentuk garamgaram bersifat asam dan aliran asam mengandung sejumlah logam beracun seperti As, Hg, Pb, dan Cd yang dapat mencemari atau merusak lingkungan.

Ketika tailing dari suatu kegiatan pertambangan dibuang di dataran atau badan air, limbah unsur pencemar kemungkinan tersebar di sekitar wilayah tersebut dan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Bahaya pencemaran lingkungan oleh arsen (As), merkuri (Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd) mungkin terbentuk jika tailing mengandung unsur-unsur tersebut tidak ditangani secara tepat. Terutama di wilayah-wilayah tropis, tingginya tingkat pelapukan kimiawi dan aktivitas biokimia akan menunjang percepatan mobilisasi unsur-unsur berpotensi racun.

Salah satu akibat yang merugikan dari arsen bagi kehidupan manusia adalah apabila air minum mengandung unsur tersebut melebihi nilai ambang batas; dengan gejala keracunan kronis yang ditimbulkannya pada tubuh manusia berupa iritasi usus, kerusakan syaraf dan sel.

Tailing yang berasal dari proses amalgamasi bijih emas memungkinkan limbah merkuri tersebar di sekitar wilayah penambangan dan dapat membentuk pencemaran lingkungan oleh merkuri organik atau anorganik. Pencemaran akan semakin membahayakan kesehatan manusia apabila unsur merkuri dalam badan air berubah secara biokimia menjadi senyawa metil-merkuri. Terdapat beraneka jenis mekanisma oleh mikro-organisma yang dapat membentuk spesies metil-merkuri bersifat racun, terutama apabila dimakan oleh ikan. Pengaruh organik merkuri terhadap kesehatan manusia termasuk hambatan jalan darah ke otak dan gangguan metabolisma dari sistem syaraf. Sedangkan pengaruh racun merkuri nonorganik adalah kerusakan fungsi ginjal dan hati di dalam tubuh manusia.

DISKUSI

Bertolak dari diperolehnya informasi tentang bahaya limbah industri mengandung unsur As, Hg, Pb, dan Cd yang dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan manusia; maka timbul pemikiran tentang kemungkinan kejadian hal serupa pada kegiatan usaha pertambangan bahan galian logam, terutama dalam kaitannya dengan pembuangan tailing dari sisa pengolahannya. Secara alamiah, tailing terdiri dari beraneka jenis dan biasanya dibuang dalam bentuk bubur (slurry) dengan kandungan air tinggi. Tailing kemungkinan juga disusun oleh bahan-bahan kering berbutir kasar berbentuk fraksi mengapung yang berasal dari pabrik pengolahan. Pembuangan tailing merupakan masalah besar bagi lingkungan, yang menjadi lebih serius apabila keberadaannya berkaitan dengan peningkatan eksploitasi dan akibat pengolahan bahan galian logam. Dampak terhadap ekologi terutama berupa pencemaran air oleh bahan-bahan padat, logam berat, kimiawi, senyawa belerang, dan lain-lain. Perkembangan penggunaan metoda pembuangan terjadi karena timbulnya dampak terhadap lingkungan, perubahan dalam proses pengolahan dan realisasi untuk mendapatkan keuntungan produksi. Metode konvensional yang masih dilakukan oleh pelaku usaha pertambangan hingga saat ini adalah pengaliran tailing ke dalam badan sungai dan atau pembuangan di atas tanah setelah melalui pengeringan. Teknik-teknik lain kemudian dikembangkan karena banyak kerusakan yang ditimbulkan akibat penggunaan metode tersebut. Semakin banyak diperlukannya bijih berbutir lebih halus, maka diperlukan cara yang paling tepat dalam pengolahan ulang tailing untuk dapat menciptakan nilai tambah produksi. Pada beberapa penambangan bawah permukaan, tailing biasa digunakan untuk menimbun daerahdaerah bekas penambangan. Tailing juga digunakan untuk back-filling dalam suatu kegiatan pertambangan dengan terlebih dahulu melalui pemisahan karena tidak semua jenis tailing dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisi bukaan-bukaan. Tailing dapat saja mengalami pemuaian atau pengerutan setelah digunakan untuk pengisi bukaan, dan juga memiliki sifat sebagai perekat sehingga sangat bermanfaat untuk kegiatan penyemenan pada penambangan bawah permukaan. Tailing juga ditimbun sementara selama masa penambangan sedang berlangsung dan kemudian ditampung dalam bendungan. Pembuatan tempat penimbunan/bendungan harus dalam kondisi aman dan ekonomis untuk menampung volume tailing serta berfungsi sebagai pengendali pencemaran lingkungan. Masalah serius yang timbul dari pembuangan tailing adalah terutama berkaitan dengan pembebasan air tercemar akibat pelarutan logam-logam berat (diantaranya As, Hg, Pb, dan Cd), keasaman (pH rendah), bahan kimia/reagen dari pabrik pengolahan dan bahan-bahan suspensi yang dapat membentuk zat padat. Secara mineralogi, mineral pengotor alkali dalam tailing sering berperan sebagai pengendali pencemaran yang alamiah; dimana salah satunya adalah peranan kalsium (Ca) dalam batugamping yang dapat mempermudah pelarutan logam-logam dan menetralisir hasil oksidasi. Proses pemurnian tailing juga sering dilakukan dengan cara pengapuran dengan tujuan untuk menetralisir keasaman, sehingga mendorong terjadinya flokulasi (penggumpalan) dan pengendapan logam-logam berat (berbentuk hidroksida) sebelum dialirkan ke dalam bendungan. Penanganan tailing melibatkan proses pengentalan dan pengaliran cairan serta pembebasan logam-logam berat, kemudian dikembalikan ke pabrik pengolahan sehingga mengurangi pasokan air dan bahan-bahan pencemar/polutan dalam bendungan tailing.

 

KESIMPULAN

Tailing dari suatu usaha pertambangan logam menjadi pusat perhatian ketika pembuangannya dilakukan tanpa memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Lebih jauh lagi apabila tailing tersebut mengandung unsur-unsur berpotensi racun seperti arsen (As), merkuri (Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd), sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dengan akibat yang merugikan bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu diperlukan penerapan program perlindungan terhadap lingkungan melalui pengembangan: metode penambangan dan pengolahan; sistem penanganan dan daur ulang tailing; rancangan konstruksi penampung tailing dan pengawasan pembuangannya; serta pencegahan pencemaran oleh unsur-unsur berpotensi racun dimaksud.

Kemudian perlu penindakan tegas atas kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan dalam kebijakan pertambangan dan etika pertambangan. Diantaranya UU UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang, UU Pertambangan Mineral dan Batubara, UU No. 11 Tahun 1967 Tentang Pertambangan Umum.

Dengan diberlakukannya secara tegas perundang-undangan yang telah ada merupakan upaya preventif untuk mencegah kerusakan lingkungan dan menciptakan etika pertambangan yang sesuai dengan aturan yang berlaku.

UPAYA

  1. Diperlukan upaya penegakan hukum terhadap masyarakat/pengusaha yang tidak memiliki surat ijin kegiatan penambangan. Upaya penegakan hukum ini diberlakukan sesuai perundang-undangan yang berlaku dan bersifat tegas serta tidak memihak. Sangsi yang diberikan kepada penambang liar dimaksudkan untuk merelokasi aktivitas penambangan pada daerah-daerah terlarang oleh kegiatan penambangan agar tidak terjadi kerusakan lingkungan yang semakin parah dan diharapkan pemberian sangsi akan menciptakan asumsi negatif terhadap upaya penegakan hukum yang lemah.
  2. Perlu dilakukan upaya pendekatan perencana program yang mampu menciptakan keserasian dan kesesuaian antar tujuan-tujuan program/kebijakan dengan kebutuhan kelompok sasaran. Dengan dipenuhinya persyaratan-persyaratan ini maka akan dapat dipastikan resiko kegagalan pelaksanaan program atau penolakan dari kelompok sasaran dapat diminimalkan.
  3. Perlunya dilakukan restrukturisasi dan revitalisasi kebijakan sektor lainnya. Hal ini dilakukan karena kebijakan pertambangan bukan merupakan sektor yang riil dan aktual.
  4. Perlu dilakukan identifikasi ulang terhadap model program yang tepat, riil dan faktual sesuai dengan prilaku/trend (kecenderungan) ekonomi masyarakat Kabupaten Bangka saat ini dan pasca timah, Hal ini dalam upaya pengembangan ekonomi alternatif dan upaya mengalihkan pekerjaan masyarkat dari ketergantungan pada sektor pertambangan ke sektor lainnya pasca ekonomi timah.




Penelitian Geologi Teknik dan Lingkungan

3 11 2010

Penelitian Geologi Teknik dan Lingkungan

Kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen Kabupaten Kediri

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penyelidikan Geologi Teknik dan Lingkungan di Kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri di lapangan dan pengolahan data-data yang ada dan yang diperoleh maka dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai rekomendasi yang akan dianjurkan bagi pihak yang berkepentingan guna dapat dijadikan pedoman untuk melakukan pengembangan wilayah berdasarkan pada kondisi geologi.

  1. Dari hasil penyelidikan lapangan dan kompilasi data yang telah ada, wilayah penelitian memiliki potensi sumberdaya geologi berupa Bahan Galian Golongan C (pasir dan batu) yang berlimpah. Selain bahan galian, wilayah penyelidikan juga memiliki potensi berupa objek wisata.
  2. Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan dan kompilasi data sekunder, beberapa  bencana geologi yang mengancam wilayah penelitian diantaranya adalah : Erosi, Gerakan Tanah, Erupsi Gunung Api, dan Banjir.

Secara khusus arahan rekomendasi pengembangan wilayah telah dijelaskan pada masing-masing unit geologi lingkungannya diatas. Secara umum dapat kita bagi rekomendasi pengembangan wilayah di wilayah Kecamatan Semen dan Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, diantaranya adalah: Hutan Kering Sekunder yaitu pada wilayah morfologi satuan pegunungan sangat terjal; daerah perkebunan dan ladang pada daerah dengan morfologi satuan pegunungan terjal dan perbukitan agak terjal. Sedangkan untuk pemukiman wilayah dengan morfologi dataran dan lereng gunungapi adalah yang paling baik.

 

SARAN

Saran yang dapat disampaikan berkenaan dengan hasil penyelidikan Geologi Teknik dan Lingkungan di Wilayah kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri adalah:

  1. Pelaksanaan kebijakan yang tegas dan tepat dari pemerintah daerah terhadap kondisi penggalian-penggalian yang terdapat di wilayah lereng, agar tidak mengalami kerusakan lingkungan, sehingga dapat dimanfaatkan lebih optimal.
  2. Diperlukan kerjasama dan penggabungan data dari berbagai pihak serta instasi terkait untuk lebih menyempurnakan proses penyusunan rencana pengembangan wilayah di wilayah Kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Pemanfaatan data hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam usaha penyusunan Rencana Tata Ruang Daerah, dalam hal ini yang berhubungan dengan potensi wilayah (potensi sumberdaya geologi) dan kerawanan bencana.





Georadar Field Trip

6 05 2010

Pengamatan yang menghasilkan data yang ada dilakukan disekitar komplek kampus MIPA jurusan Biologi UGM UGM.

KESIMPULAN

Dari keseluruhan data yang diambil dan dihubungkan dengan dasar teori yang sudah ada, serta interpretasi yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Anomali dalam pengukuran geofisika merupakan pencerminan dari keadaan geologi yang ada, yang sangat tergantung dari kontras sifat fisis.
  2. Sifat-sifat keelektrikan batuan dipengaruhi oleh komposisi mineral batuan dan fluida.
  3. Jika kedalaman permukaan pantul tidak diketahui, pengukuran WARR dapat digunakan untuk menetukan cepat rambat.
  4. Karena kedalaman pengukuran survey georadar yang dangkal, maka metode georadar ini jarang sekali digunakan untuk eksplorasi mineral ekonomis.
  5. Lokasi pengamatan yang telah dilakukan pengukuran merupakan sebuah jalan kecil diatas aspal dengan melewati selokan besar tanpa air..
  6. Litologi lapisan yang diamati berdasar penampang dan lokasi pengamatan maka didapat lapisan pertama berupa tanah kering.
  7. Litologi lapisan kedua berupa udara pada selokan besar.




Geology Structure Field Trip

6 05 2010

Field trip geologi struktur dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 16 Desember 2006 mengambil lokasi di Zona Kendeng atau secara administratif termasuk dalam kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Daerah ini tercantum pada peta topografi skala 1 : 25.000 lembar 49 / XL – n dan berada di sebelah Timur waduk Kedung Ombo.

KESIMPULAN

  1. Struktur umum yang dijumpai pada lokasi pengamatan berupa kekar, sesar, serta adanya perlipatan (baik berupa antiklin maupun sinklin)
  2. Litologi yang  terdapat pada daerah ini umumnya batupasir yang bersifat karbonatan dan batulanau-lempung.
  3. Pada daerah ini dijumpai struktur-struktur geologi berupa kekar, sesar, serta perlipatan (baik berupa antiklin maupun sinklin) yang berarah utara – selatan, sepanjang kurang lebih 300 m. Adapun arah-arah gaya utamanya juga berasal dari utara – selatan. Sesar-sesar yang dijumpai berupa sesar, baik sesar naik maupun Turín, baik itu mayor maupun minor. Tapi pada daerah ini lebih dominant berupa sesar minor.
  4. Beberapa lokasi pada stasiun pengamatan 2, terdapat urat-urat (vein) yang terisi oleh mineral-mineral karbonat. Vein merupakan rekahan-rekahan yang terisi oleh mineral-mineral.
  5. Pada satu lokasi pengamatan di STA 2 terdapat microfold yang terbentuk akibat lapisan batuan yang dikerutkan akibat adanya gaya tarik bumi.
  6. Arah gaya pembentuk struktur kekar yang terjadi di lokasi pengamatan pertama adalah sebagai berikut :
    • σ1 : 810 / N 3100 E
    • σ2 : 70 / N 860 E
    • σ3 : 70/N 1790 E
  7. Pada lokasi pengamatan 12 dilakukan pengukuran slope sebesar 210.





GFD & Krismin Field Trip

6 05 2010

Field Trip Geologi Fisik & Dinamik dan Kristalografi Mineralogi

Lokasi field trip geologi fisik dan geologi dinamik ini mengambil tempat di sekitar Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Field trip ini dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2005, kami berangkat dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada pukul 07.30 WIB. Stasiun pengamatan pada field trip ini dibagi menjadi lima. Stasiun pertama yang kami tuju yaitu Sungai Progo, setelah melakukan pengamatan di stasiun ini kami melanjutkan perjalanan ke stasiun kedua. Stasiun kedua ini dibagi menjadi dua lokasi pengamatan sehingga rombongan dibagi menjadi dua. Lokasi pengamatan yang pertama kali kami amati berada di ladang jagung penduduk yang terletak di sebelah tenggara Watumurah dekat Gunung Mudjil. Lokasi pengamatan kedua terletak di tepi jalan, yang berada di sebelah tenggara Watumurah dan sebelah baratdaya Kenteng dimana di situ dilakukan plot lokasi yang diukur terhadap Gunung Mudjil dan Gunung Prau. Setelah itu kami melanjutkan ke stasiun pengamatan ketiga, stasiun ini terletak di Desa Dengok Kecamatan Nanggulan, Sleman, Yogyakarta. Stasiun ini juga dibagi menjadi dua lokasi pengamatan. Kemudian kami menuju ke stasiun keempat, stasiun ini terletak di Desa Sangon,  Kulonprogo. Stasiun ini juga dibagi menjadi dua lokasi pengamatan yaitu yang pertama kami amati adalah tambang emas rakyat dan yang kedua yaitu di salah satu aliran sungai di Desa Sangon. Kemudian kami menuju ke stasiun pengamatan selanjutnya yaitu stasiun kelima sekaligus stasiun terakhir yang kami kunjungi. Stasiun kelima ini terletak di Pantai Glagah sebelah selatan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah selesai melakukan pengamatan di kelima stasiun tersebut kami kembali ke kampus teknik Universitas Gadjah Mada.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan pada saat field trip dapat disimpulkan antara lain :

  1. Indonesia  sangat berpotensial sebagai negara penelitian karena memiliki kelengkapannya dalam geomorfologinya, litologinya, dan atau proses geologinya.
  2. Kita dapat memahami bahwa banyak sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan Indonesia.
  3. Kulon Progo menjadi salah satu daerah yang dapat dimanfaatkan bagi Universitas – universitas yang ada di Yogyakarta untuk penelitian maupun kuliah lapangan.
  4. Di Yogyakarta, khususnya di Kulon Progo banyak sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk kelangsungan hidupnya.
  5. Dengan diadakannya fieldtrip ini, dapat memacu para mahasiswa untuk dapat menimba ilmu lebih tinggi agar dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Selama melakukan pengamatan dan penelitian di stasiun – stasiun pada field trip di Kulon Progo ini, kita dapat menjumpai bentuk – bentuk morfologi yang berbeda – beda dari setiap stasiun pengamatan yang berasal dari formasi batuan yang berbeda pula. Walaupun terdapat perbedaan pada morfologinya, litologi pada masing – masing daerah pengamatan hampir sama. Potensi geologi yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar juga banyak dan bermacam – macam. Terdapat juga bermacam – macam mineral yang terdapat dalam satu batuan yang sama. Contohnya dapat dilihat di stasiun pertama, mineral plagioklas dapat berasosiasi dengan hornblende, orthoklas, kuarsa, dan mineral – mineral felsic yang terdapat pada batu andesit yang sama. Sehingga kita mampu mempelajari mineral – mineral secara lebih kompleks. Untuk mineral kuarsa ditemukan hampir di seluruh stasiun pengamatan.