3rd Stratigraphy Analysis

25 03 2010

Analisis Struktur Sedimen

I. Maksud dan Tujuan

Maksud :

  • Pengenalan terhadap berbagai struktur sedimen
  • Melakukan pengukuran data struktur sedimen : ripple mark ( beberapa parameter Indeks Ripple ) dan silang siur.

Tujuan : Mampu menggunakan data pengukuran struktur sedimen untuk analisa proses  sedimentasi dan interpretasi lingkungan pengendapan.

II. Dasar Teori

Sybill (1984) menjelaskan bahwa struktur sedimen adalah sebuah struktur dalam batuan sedimen, seperti cross – bedding, ripple marks, dan sandstone dikes, yang terbentuk bersama pada saat deposisi berlangsung (struktur sedimen primer) atau sesaat setelah deposisi (struktur sedimen sekunder).

Struktur sedimen merupakan data dinamis lingkungan pengendapan karena sebagian besar struktur sedimen terbentuk oleh proses fisika sebelum, selama dan sesudah sedimentasi, struktur yang lain dihasilkan oleh proses biogenik dan proses kimia. Proses fisika meliputi pergerakan arus fluida, aliran massa dan transportasi sedimen oleh angin dan salju. Proses fisik dapat terjadi selama sedimentasi atau berupa aktifitas mekanik beberapa saat setelah sedimentasi. Proses biogenik adalah aktifitas tumbuhan dan binatang di tempat dimana sedimen tersebut diendapkan. Sedang proses kimia merupakan proses yang muncul akibat pelarutan-pelarutan dan reaksi antar komponen penyusun batuan sedimen.

Struktur sedimen mencerminkan kondisi lingkungan saat sedimentasi dan perubahan yang mengontrolnya, sehingga struktur sedimen sangat bermanfaat, antara lain untuk :

  1. Interpretasi lingkungan pengendapan yang mencakup mekanisme transportasi sedimen, arah aliran arus, kedalaman air, kekuatan angin, dan kecepatan relatif arus.
  2. Menentukan bagian atas dan bawah pada lapisan yang sudah terdeformasi.
  3. Menentukan pola arus purba dan paleogeografi suatu daerah.

Berdasarkan genetiknya struktur sedimen dibedakan menjadi empat yaitu:

  1. Struktur sedimen erosional
  2. Struktur sedimen saat pengendapan (Depositional sedimentary structure)
  3. Struktur sedimen yang terbentuk segera setelah/pasca pengendapan (Post depositional sedimentary structure).
  4. Struktur biogenik (Trace fossil)

Ripple marks merupakan struktur sedimen yang menunjukkan kenampakan adanya undulasi berjarak teratur pada permukaan pasir atau pada permukaan perlapisan batupasir. Sedang Sybill (1984) mengatakan bahwa ripple marks adalah bentukan permukaan pada material sedimentasi, khususnya material berupa pasir lepas, yang terdiri dari gundukan dan cekungan yang bergantian yang dibentuk oleh gaya angin atau aliran air. Bentuk dan ukuran dari struktur Ripple marks ini dapat bervariasi. Puncak dari sebuah ripple dapat saling berhubungan secara paralel satu dengan yang lainnya atau membentuk anastome pada sebagian tubuh struktur ini. Pada sayatan transversal, bentuknya dapat simetris atau asimetris, dengan puncak yang tajam, membundar, atau cenderung datar.

Ada beberapa parameter untuk memudahkan penentuan jenis ripple dan juga dapat digunakan untuk interpretasi proses pembentukannya, material penyusunnya, dan komponen-komponen serta media pembentuknya.





1st Stratigraphy Analysis

25 03 2010

Analisis Lingkungan Stratigrafi

Faktor – faktor yang mempengaruhi dalam analisis lingkungan pengendapan bermacam – macam, antara lain adalah :

1. Faktor fisik.

Faktor fisik ini meliputi sifat – sifat fisik dari lingkungan pengendapan. Hal ini berdasarkan dari jenis batuan, tekstur, dan struktur batuan sedimen.

2. Faktor kimia.

Faktor kimia ini meliputi sedimen – sedimen yang diendapkan dan proses pengendapannya berdasarkan dari zat yang terlarut, gas yang terlarut, ion – ion yang terlarut, kadar garam, derajat keemasan, dan potensial reduksi – oksidasi.

3. Faktor biologi.

Faktor ini meliputi sifat – sifat biologis lingkungan pengendapan yang dicirikan oleh jenis – jenis organisme yang ada pada lingkungan pengendapan. Masing – masing memiliki cara hidupnya, yaitu hidupnya mengambang ( pelagic planktonic ), melayang ( nektonic ), pada dasar laut ( benthonic ).





Geomagnet

10 03 2010

I. MAKSUD & TUJUAN

Maksud : Untuk menghitung nilai anomali medan magnet pada suatu daerah dan membuat peta anomali intensitas magnetik total.

Tujuan : Untuk menafsirkan kondisi geologi bawah permukaan berdasarkan data anomali magnetik.

II. DASAR TEORI

Pada mulanya penemuan – penemuan obyek – obyek geologi, termasuk mineral – mineral ekonomis, dibawah permukaan ditemukan secara kebetulan. Ilmu kebumian terutama ilmu fisika belum berperan, sebab obyek – obyek geologi tersebut belum dipahami dengan baik, sehingga sifat – sifat fisika, serta prinsip – prinsip fisika untuk mendeteksinya belum diketahui. Setelah itu para ilmuwan kemudian menciptakan metode – metode untuk melakukan survey yang salah satunya adalah survey geomagnet.

Dalam survey geomagnet sendiri diperlukan pengertian dasar-dasar fisika tentang kemagnetan, antara lain:

  1. Garis gaya adalah suatu garis yang arahnya disetia titik menunjukkan arah kuat medan di titik tersebut.
  2. Gaya magnet (F) adalah gaya tarik-menarik atau tolak-menolak dari dua kutub magnet (m1 , m2) yang berjarak r. Hukum Coloumb menyatakan   F = m1 . m2 / ( u.r2 ) dimana adalah konstanta permeabilitas magnet.
  3. Kuat medan magnet (H) adalah gaya per satuan kuat kutub magnet yang bekerja terhadap suatu kutub kecil (m`)       H = F / m` = m / ( r )
  4. Momen magnet (M) adalah besaran vektor yang memanjang dari kutub negatif  ke kutub positif.
  5. Intensitas magnetik (I) merupakan momen magnet per satuan volume. Intensitas magnet ini sebanding dengan kuat medan magnet dan arahnya searah dengan medan magnet yang menginduksi.
  6. Susceptibility / kerentanan magnetik (k) merupakan tingkat kemagnetan suatu benda untuk termagnetisasi.                        I = kH

Newton ( __ ), menduga bahwa akibat perputaran pada sumbunya, bumi tidak berbentuk bulat sempurna, melainkan berbentuk ellipsoid, mendatar pada kutub – kutubnya. Dalam tinjauan kemagnetannya, bumi dapat dianggap bola yang termagnetisasi, kutib magnet selatan mengeluarkan garis gaya dan diterima kutub magnet utara, dengan kedua kutub utara dan selatan tersebut terletak kira – kira pada 750 LU, 1010 BB dan 670 LS, 1430 BT.

Besarnya medan magnet bumi merupakan gabungan dari tiga jenis medan magnet utama, yaitu:

1. Medan Utama

Berasal dari dalam bumi sendiri yang variasinya terhadap waktu berubah lambat dan kecil. Perubahan ini dikenal dengan variasi sekuler, yang disebabkan oleh berpindahnya kutub-kutub magnet bumi. Pergeseran ini sebesar 1/10o pertahun ke arah barat, pada garis khatulistiwa kira-kira 6 km per tahun. Karena perubahan yang lambat maka pengaruh terhadap pengukuran anomali medan magnet lokal dapat diabaikan.

2. Medan Luar

Berasal dari luar bumi, mempunyai variasi terhadap waktu yang lebih cepat. Hanya memberikan sumbangan 1% saja dalam medan magnet bumi, terutama:

  • Variasi harian

Penyebabnya berhubungan dengan interaksi antara radiasi matahari dengan lapisan ionosfer bumi. Variasi ini berperiode dalam 24 jam dan nilainya berkisar antara 10 – 50 T.

  • Badai magnetik

Penyebabnya adalah partikel-partikel yang dilepas oleh matahari. Badai magnetik dapat berlangsung dalam beberapa jam bahkan sampai beberapa hari, periodenya sampai 27 hari. Nilainya dapat mencapai         500 T. Oleh karena itu pada saat badai ini terjadi pengukuran yang dilakukan akan menjadi tidak valid.

3. Medan Anomali (anomalous field)

Berasal dari anomali magnet lokal di dekat permukaan kerak bumi dan relatif konstan terhadap waktu maupun posisi. Penyebabnya adalah karena perbedaan komposisi mineral yang bersifat magnetik.





Gravitasi

10 03 2010

DASAR TEORI

Pada mulanya penemuan – penemuan obyek – obyek geologi, termasuk mineral – mineral ekonomis, dibawah permukaan ditemukan secara kebetulan. Ilmu kebumian terutama ilmu fisika belum berperan, sebab obyek – obyek geologi tersebut belum dipahami dengan baik, sehingga sifat – sifat fisika, serta prinsip – prinsip fisika untuk mendeteksinya belum diketahui. Setelah itu para ilmuwan kemudian menciptakan metode – metode yang salah satunya adalah metode gravitasi atau gaya berat.

Gravitasi atau gaya berat, bersama dengan magnit adalah salah satu alat dasar yang digunakan pada awal tingkatan dari eksplorasi (Sheriff, 1978, hal 3). Sedang Hochstein (1982) menjelaskan bahwa gravitasi adalah gaya yang bekerja pada suatu satuan massa dipermukaan bumi. Dalam menerapkan setiap metode geofisika untuk mengeksplorasi keadaan geologi bawah permukaan perlu diingat hukum – hukum geologi yang mengontrol keberadaan dan konfigurasi obyek – obyek geologi. Hukum dasar gravitasi dikemukakan pertama kali oleh Isaac Newton yang lebih dikenal dengan hukum Newton, yang terbagi menjadi dua hukum utama.

  • Hukum Newton I
  • Hukum Newton II

Data metode gravitasi yang ada didapatkan melalui pengukuran variasi antar titik – titik dipermukaan bumi yang saling berdekatan. Variasi ini disebabkan oleh :

  • Kondisi bumi tidak seragam
  • Kondisi bumi berbentuk bola
  • Bumi mengalami rotasi.

Tentu pengukuran data dalam mencari harga gravitasi tidak serta – merta mutlak begitu saja, banyak pengaruh dari luar. Pada suatu tempat dimuka bumi ini, harga gravitasi dipengaruhi oleh faktor :

  • Lintang
  • Elevasi
  • Topografi
  • Efek pasang surut
  • Densitas batuan

Data gravitasi yang sudah ada kebanyakan digunakan dalam mencari hidrokarbon. Gravitasi atau gaya berat ini juga digunakan dalam tingkatan selanjutnya dalam eksplorasi, seperti untuk memeriksa kebenaran interpretasi. Sebuah interpretasi harus sesuai dengan semua informasi yang ada, termasuk gravitasi. Secara umum prosedur interpretasi yang dipakai oleh ahli geofisika adalah membandingkan efek fisika terukur yang ditimbulkan oleh suatu obyek dibawah permukaan (misal kubah garam, cebakan mineral bijih, sesar, dll) dengan efek fisika tertentu dengan formula – formula dari suatu model standar.

Menurut Sheriff (1978) hal 15, dengan gravitasi kita punya keuntungan besar dalam penambahan vektor, karena kita tahu bahwa hasil net adalah dalam direksi vertikal, dengan demikian kita hanya butuh menambahkan komponen – komponen vertikal, tahu bahwa komponen – komponen horizontal akan dijumlah hingga 0. Karena itu kita hanya butuh skala penambahan dan tidak perlu menggunakan semua penambahan vektor.

Pengolahan data gravitasi meliputi konversi ke harga miligal, koreksi pasang surut, koreksi tinggi alat, koreksi drift, koreksi lintang, koreksi udara bebas, dan koreksi bouguer yang menghasilkan anomali bouguer sederhana di topografi. Biasanya anomali bouguer sederhana kemudian diproyeksikan ke suatu bidang datar dengan menggunakan metode sumber ekivalen titik massa (geosociety.com).

Penjelasannya menurut Nettleton (1940), koreksi gaya berat yang perlu dilakukan ada empat macam yaitu :

a)       Koreksi lintang

Pada koreksi ini selalu digunakan suatu titik lintang sebagai dasarnya. Untuk koreksi lintang ini dipakai konstanta K yang besarnya :

K   = 0.8122 sin2θ (mgal/km)

= 1.307 sin2θ (mgal/mil)

b)       Koreksi ketinggian

Koreksi ini dibagi lagi menjadi dua koreksi yaitu koreksi udara bebas (free air correction) dan koreksi Bouguer (Bouguer correction). Besarnya koreksi ketinggian adalah sebagai berikut :

Free air correction = 0.3086 mgal/m.(h) atau 0.09406 mgal/ft.(h)

Bouguer Correction = 0.04185 σ. h (mgal/m) atau 0.01272 σ. h (mgal/ft)

c)       Koreksi topografi (terrain correction)

Untuk koreksi ini menggunakan zona chart yang dibuat oleh Hammer (1939). Harga koreksi dari chart Hammer ini selalu ditambahkan tanpa melihat apakah ada bukit ataupun depresi di sekitar stasiun.

d)      Koreksi pasang surut

Koreksi ini dikontrol oleh adanya gaya tarik antara matahari dan bulan yang berkaitan erat dengan posisinya. Hal ini dapat mempengaruhi pengukuran yang dilakukan dengan gravimeter dikarenakan posisi bulan dan matahari dapat menyebabkan pasang surutnya air laut sehingga koreksi ini perlu dilakukan.





3rd Structure Geology

7 03 2010


Proses Terbentuknya Lipatan

I. PENGERTIAN

Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai lengkungan atau kumpulan lengkungan pada unsure garis atau bidang dalam bahan tersebut. Unsur bidang yang disertakan umumnya perlapisan (Hansen 1971, diambil dari Panduan Praktikum 1991). Atau terlipatnya suatu lapisan batuan (Sybil P. Parker, 1984).

Lipatan merupakan salah satu gejala struktur geologi yang amat penting. Struktur lipatan sangat menentukan distribusi batuan dan strujtur bawah permukaan, selain itu lipatan berhubungan erat dengan pola tegasan atau gaya yang berpengaruh di daerah tersebut dan gejaIa struktur yang lain, misalnya sesar.

Cara yang biasa dilakukan dalam analisa lipatan adalah dengan merekonstruksikankan dalam penampang.

Kenampakan – kenampakan dari lipatan sendiri berupa antiformal, sinformal, antiklin, sinklin, antiklinal band, sinklinal band, monoklin, terrace, vertical fold, normal fold, dll.

Untuk menganalisa Iebih lanjut terhadap arah lipatan, bidang sumbu, bentuk lipatan, garis sumbu, penunjaman dan pola tegasan yang berpengaruh terhadap pembentukan lipatan, perlu dilakukan pengukuran secara menyeluruh pada suatu daerah dimana gajala lipatan itu terbentuk. Hasil pengukuran – pengukuran itu disamping disajikan di dalam peta, juga dianalisa dengan menggunakan diagram Beta dan diagram kontur, penggunaan kedua diagram ini pada dasarnya sama, karena tujuan yang akan dicapai adalah kedudukan lipatan dan disinibusi hasil pengukuran yang diplot dalam proyeksi kutub.

II. PROSES TERBENTUK

Lipatan atau terlipatnya suatu lapisan batuan terbentuk biasanya diakibatkan oleh adanya gaya deformasi. Lipatan dikenali dengan lapisan batuan telah mengalami penyimpangan bentuk menjadi bentukan seperti ombak (Sybil P. Parker, 1984). Mekanisme gaya yang menyebabkannya ada 2 macam, yaitu :

1.

Buckling (melipat)             : Disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya sejajar dengan arah permukaan lempeng.

2.

Bending (pelengkungan)   : Disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya tegak lurus dengan permukaan lempeng.

Pada referensi lainnya, pembentukan lipatan menurut Billings (1986), adanya bentukan lipatan pada umumnya disebabkan karena proses tektonik dan non tektonik.

  1. Tektonik

Proses tektonik ini disebabkan oleh gaya — gaya dalam bumi. Gaya ini adalah gaya tekan hortisontal karena sejajar dengan permukaan bumi. Penyebab utama terbentuknya perlipatan oleh gaya tektonik atau gaya tekan mendatar karena adanya teori – teori sebagai berikut :

a. Teori kontraksi

Teori klasik bahwa bumi semakin lama sesuai waktu geologinya semakin kecil, dengan adanya pendinginan, pembentukan mineral yang lebih padat, dan ekstrusi magma dan lapisan batuan lainnya, maka ada penyesuaian karena pengerutan bumi tersebut dan menghasilkan gaya tekan.

b. Pengapungan Benua

Teori ini bagian dan tektonik lempeng yang menerangkan tentang pemekaran dasar samudera, tumbukan lempeng, pengapungan benua, perlipatan serta patahan yang disebabkan karena adanya aliran konveksi berupa gerakan magma. Karena adanya aliran yang bergerak di sepanjang dasar kerak bumi tersebut menyebabkan kerak bumi terlipat ke bawah dan lapisan yang di atasnya juga ikut terlipat.

c. Pergeseran karena Gaya Berat

Pergeseran ini terjadi karena adanya pengangkatan dari batuan dasar yang membuat batuan dasar retak. Karena terus berlangsung maka retakan menyebabkan patahan yang berurutan hingga karena adanya gaya berat maka lapisan akan bergeser membentuk lipatan.

  1. Non tektonik

Proses ini sebagian besar dihasilkan oleh proses eksogenik, yang antara lain berupa erosi dan deposisi. Proses non-tektonik ini terjadi karena penyebab – penyebab antara lain :

a. Perbedaan Kompaksi Sedimen

Karena adanya perbedaan kekompakan atau keresistensian hingga nanti dalam pengendapan selanjutnya lapisan secara otomatis akan terlipatkan melengkung.

b. Proses Pelarutan

Proses ini terjadi karena bahan kimia yang mengalami pelarutan dapat menghasilkan struktur yang besar, seperti kubah yang terbentuk dan garam yang menumpang.

III. KESIMPULAN

Geologi struktur diartikan sebagai suatu ilmu yang membahas suatu bentuk kerak bumi dan gejala – gejala pembentukannya. Dengan demikian, inti geologi struktur adalah deformasi pada kerak bumi, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana akibatnya. Geologi struktur ini merupakan studi mengenal unsur – unsur struktur geologi, yaitu studi tentang perlipatan, rekahan, sesar, dan sebagainya, yang terdapat didalam suatu satuan tektonik. Sehingga struktur geologi, termasuk lipatan ini saling terkait dan saling mempengaruhi struktur geologi satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan lipatan ini memyebabkan terjadinya struktur geologi yang lain, semisal sesar, khususnya sesar turun. Kenampakan lipatan dapat juga digunakan untuk interpretasi lapangan berupa mendeterminasi bentuk dan ukuran tubuh batuan dalam suatu daerah/wilayah, dapat mendeterminasi proses – proses fisik yang menghasilkan struktur geologi tersebut, serta mengetahui urut – urutan kejadian geologi pada suatu daerah/wilayah.

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

PROSES TERBENTUKNYA LIPATAN

I. PENGERTIAN

Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai lengkungan atau kumpulan lengkungan pada unsure garis atau bidang dalam bahan tersebut. Unsur bidang yang disertakan umumnya perlapisan (Hansen 1971, diambil dari Panduan Praktikum 1991). Atau terlipatnya suatu lapisan batuan (Sybil P. Parker, 1984).

Lipatan merupakan salah satu gejala struktur geologi yang amat penting. Struktur lipatan sangat menentukan distribusi batuan dan strujtur bawah permukaan, selain itu lipatan berhubungan erat dengan pola tegasan atau gaya yang berpengaruh di daerah tersebut dan gejaIa struktur yang lain, misalnya sesar.

Cara yang biasa dilakukan dalam analisa lipatan adalah dengan merekonstruksikankan dalam penampang.

Kenampakan – kenampakan dari lipatan sendiri berupa antiformal, sinformal, antiklin, sinklin, antiklinal band, sinklinal band, monoklin, terrace, vertical fold, normal fold, dll.

Gambar 1. Contoh Lipatan 1                                                                          Gambar 2. Contoh Lipatan 2

Gambar 3. Animasi Forced Folds                                    Gambar 4. Animasi Tip-line Folds

Untuk menganalisa Iebih lanjut terhadap arah lipatan, bidang sumbu, bentuk lipatan, garis sumbu, penunjaman dan pola tegasan yang berpengaruh terhadap pembentukan lipatan, perlu dilakukan pengukuran secara menyeluruh pada suatu daerah dimana gajala lipatan itu terbentuk. Hasil pengukuran – pengukuran itu disamping disajikan di dalam peta, juga dianalisa dengan menggunakan diagram Beta dan diagram kontur, penggunaan kedua diagram ini pada dasarnya sama, karena tujuan yang akan dicapai adalah kedudukan lipatan dan disinibusi hasil pengukuran yang diplot dalam proyeksi kutub.

Contoh – contoh lipatan :

Gambar 1. Flexure Folding                                               Gambar 2. Flow Folding

Gambar 3. Shear Folding                                                  Gambar 4. Flexure & Flow Folding

(Peter C. Badgley, 1965 diambil dari Pedoman Praktikum ITB, 1986)

II. PROSES TERBENTUK

Lipatan atau terlipatnya suatu lapisan batuan terbentuk biasanya diakibatkan oleh adanya gaya deformasi. Lipatan dikenali dengan lapisan batuan telah mengalami penyimpangan bentuk menjadi bentukan seperti ombak (Sybil P. Parker, 1984). Mekanisme gaya yang menyebabkannya ada 2 macam, yaitu :

1. Buckling (melipat)             : Disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya sejajar dengan arah permukaan lempeng.

Gambar 5. Buckling

2. Bending (pelengkungan)   : Disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya tegak lurus dengan permukaan lempeng.

Gambar 6. Bending

Pada referensi lainnya, pembentukan lipatan menurut Billings (1986), adanya bentukan lipatan pada umumnya disebabkan karena proses tektonik dan non tektonik.

  1. Tektonik

Proses tektonik ini disebabkan oleh gaya — gaya dalam bumi. Gaya ini adalah gaya tekan hortisontal karena sejajar dengan permukaan bumi. Penyebab utama terbentuknya perlipatan oleh gaya tektonik atau gaya tekan mendatar karena adanya teori – teori sebagai berikut :

a. Teori kontraksi

Teori klasik bahwa bumi semakin lama sesuai waktu geologinya semakin kecil, dengan adanya pendinginan, pembentukan mineral yang lebih padat, dan ekstrusi magma dan lapisan batuan lainnya, maka ada penyesuaian karena pengerutan bumi tersebut dan menghasilkan gaya tekan.

b. Pengapungan Benua

Teori ini bagian dan tektonik lempeng yang menerangkan tentang pemekaran dasar samudera, tumbukan lempeng, pengapungan benua, perlipatan serta patahan yang disebabkan karena adanya aliran konveksi berupa gerakan magma. Karena adanya aliran yang bergerak di sepanjang dasar kerak bumi tersebut menyebabkan kerak bumi terlipat ke bawah dan lapisan yang di atasnya juga ikut terlipat.

c. Pergeseran karena Gaya Berat

Pergeseran ini terjadi karena adanya pengangkatan dari batuan dasar yang membuat batuan dasar retak. Karena terus berlangsung maka retakan menyebabkan patahan yang berurutan hingga karena adanya gaya berat maka lapisan akan bergeser membentuk lipatan.

  1. Non tektonik

Proses ini sebagian besar dihasilkan oleh proses eksogenik, yang antara lain berupa erosi dan deposisi. Proses non-tektonik ini terjadi karena penyebab – penyebab antara lain :

a. Perbedaan Kompaksi Sedimen

Karena adanya perbedaan kekompakan atau keresistensian hingga nanti dalam pengendapan selanjutnya lapisan secara otomatis akan terlipatkan melengkung.

b. Proses Pelarutan

Proses ini terjadi karena bahan kimia yang mengalami pelarutan dapat menghasilkan struktur yang besar, seperti kubah yang terbentuk dan garam yang menumpang.

III. KESIMPULAN

Geologi struktur diartikan sebagai suatu ilmu yang membahas suatu bentuk kerak bumi dan gejala – gejala pembentukannya. Dengan demikian, inti geologi struktur adalah deformasi pada kerak bumi, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana akibatnya. Geologi struktur ini merupakan studi mengenal unsur – unsur struktur geologi, yaitu studi tentang perlipatan, rekahan, sesar, dan sebagainya, yang terdapat didalam suatu satuan tektonik. Sehingga struktur geologi, termasuk lipatan ini saling terkait dan saling mempengaruhi struktur geologi satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan lipatan ini memyebabkan terjadinya struktur geologi yang lain, semisal sesar, khususnya sesar turun. Kenampakan lipatan dapat juga digunakan untuk interpretasi lapangan berupa mendeterminasi bentuk dan ukuran tubuh batuan dalam suatu daerah/wilayah, dapat mendeterminasi proses – proses fisik yang menghasilkan struktur geologi tersebut, serta mengetahui urut – urutan kejadian geologi pada suatu daerah/wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

Billings M. P., 1979, Structural Geology, Third Edition, Prentice – Hall of India Privated Limited, New Delhi.

Parker, Sybil P., 1984, McGraw – Hill Dictionary of  Earth Sciences, McGraw – Hill Book Company 1221 Avenue of the Americas, New York.

Soetoto, 1994, Geologi Struktur, Laboratorium Geologi Dinamik Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Staf Asisten Geologi Struktur, 1991, Petunjuk Praktikum Geologi Struktur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geologi, Yogyakarta.

Staf Asisten Geologi Struktur, 1984, Pedoman Praktikum Geologi Struktur, KBK Geologi Dinamis Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Institut Teknologi Bandung, Bandung.





2nd Stucture Geology

6 03 2010

Klasifikasi Lipatan (Billings;1986)


  • Berdasarkan bentuk penampang tegak :

Lipatan simetri :lipatan dimana axial plane-nya vertikal

Lipatan asimetri :lipatan dimana axial plane-nya condong

Overturned fold :lipatan dimana axial plane-nya condong dan kedua sayapnya miring ke arah yang sama dan biasanya pada sudut yang berbeda

Recumbent fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal

Vertical isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya vertical

Isoclined isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya condong

Recumbent isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal

Chevron fold :lipatan dimana hinge-nya tajam dan menyudut

Box fold :lipatan dimana crest-nya luas dan datar

Fan fold :lipatan dimana sayapnya membalik

Monocline :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal terjal

Structure terrace :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal dianggap horizontal

Homocline :lapisan yang miring dalam satu arah pada sudut yang relatif sama

  • Berdasarkan intensitas lipatan :

Open fold :lipatan yang lapisannya tidak mengalami penebalan atau penipisan karena deformasi yang lemah

Closed fold :lipatan yang lapisannya mengalami penebalan atau penipisan karena deformasi yang kuat

Drag fold :lipatan-lipatan kecil yang terbentuk pada sayap-sayap lipatan yang besar akibat terjadinya pergeseran antara lapisan kompeten dengan lapisan tak kompeten

En enchelon fold :beberapa lipatan yang sifatnya lokal dan saling overlap satu dengan yang lain

Culmination dan depression :lipatan-lipatan yang menunjam pada arah yang berbeda, sehingga terjadi pembubungan dan penurunan

Anticlinorium :yaitu antiklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil

Synclinorium :yaitu sinklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil

  • Berdasarkan sifat lipatan dan kedalaman :

Similar fold :lipatan yang tiap lapisannya lebih tipis pada sayapnya dan lebih tebal pada hinge-nya

Paralel/concentric fold :lipatan dengan anggapan bahwa ketebalan lapisan tidak berubah selama perlipatan

Pierching/diaphiric fold :lipatan dimana intinya yang aktif telah menerobos melalui batuan diatasnya yang lebih rapuh

Supratenuous fold :lipatan yang terbentuk karena adanya perbedaan kompaksi sedimen pada saat pengendapan terjadi di punggung bukit

Disharmonic fold :lipatan yang bentuknya tak seragam dari lapisan ke lapisan

  • Berdasarkan kedudukan axial surface dan hinge line :

Horizontal normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line horizontal

Plunging normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line menunjam

Horizontal inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line horizontal

Plunging inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi jurus axial plane miring terhadap sumbu lipatan

Reclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi jurus axial plane tegak lurus terhadap sumbu lipatan

Vertical :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line vertical

Recumbent :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line horizontal





1st Structure Geology

6 03 2010

Aplikasi Geologi Struktur Dalam Ilmu Geologi

A. Pengertian.

Geologi struktur diartikan sebagai suatu ilmu yang membahas suatu bentuk kerak bumi dan gejala – gejala pembentukannya. Dengan demikian, inti geologi struktur adalah deformasi pada kerak bumi, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana akibatnya.

Geologi struktur merupakan studi mengenal unsur – unsur struktur geologi, yaitu studi tentang perlipatan, rekahan, sesar, dan sebagainya, yang terdapat didalam suatu satuan tektonik. Tektonik sendiri dianggap suatu studi yang mencakup masalah bentuk, pola evolusi dari satuan tektonik dalam ukuran yang lebih besar seperti : cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, paparan dan sebagainya. Geologi struktur dalam hal ini sudah pasti erat hubungannya dengan studi tentang struktur sekunder, yaitu suatu struktur yang terbentuk setelah terjadi pengendapan batuan. Macam – macam struktur sekunder :

  1. Kekar (joint) : yaitu rekahan – rekahan dalam batuan yang terjadi karena tekanan atau tarikan yang disebabkan oleh gaya yang bekerja dalam kerak bumi.
  2. Sesar (fault) : adalah rekahan – rekahan dalam kulit bumi, yang telah mengalami pergeseran.
  3. Lipatan (fold) : yaitu penekukan pada batuan, baik dalam batuan sedimen atau metamorf.
  4. Ketidakselarasan (unconformity) : yaitu suatu bidang erosi yang memisahkan antara batuan yang lebih muda dari yang lebih tua.

B. Tujuan & Manfaat Penerapan Geologi Struktur.

Geologi struktur nampak seperti cabang ilmu yang sempit, hanya sebatas mempelajari struktur – struktur geologi. Tetapi sebenarnya penggunaannya sangat luas, dan pengaruh terhadap cabang ilmu geologi lain sangat besar. Tujuan – tujuan serta manfaat – manfaat penerapan geologi struktur adalah antara lain :

  1. Memahami bagaimana sejarah struktur pada suatu batuan yang terbentuk. Hal ini untuk membantu penelitian petroleum, gas, atau mineral lain.
  2. Dapat mendeterminasi bentuk dan ukuran tubuh batuan.
  3. Dapat mendeterminasi proses – proses fisik yang menghasilkan struktur geologi tersebut.
  4. Mengetahui urut – urutan kejadian geologi memalui struktur geologi.
  5. Mengetahui wujud/bentuk struktur pada suatu batuan, misal untuk mengetahui batuan masih aktif atau tidak.
  6. Dengan mengetahui jenis struktur yang ada, maka kita akan memahami bentuk muka bumi dengan baik.
  7. Membantu dalam mengetahui kestabilan suatu kawasan.
  8. Bersama cabang ilmu lain yang bersangkutan, dapat meneliti penggunaan tanah, eksplorasi air tanah, dan pengawasan alam sekitar.
  9. Dapat mengetahui posisi stratigrafi suatu batuan dengan batuan yang lain.
  10. Dalam aplikasinya dapat membantu dalam mencari minyak bumi, gas, geologi teknik, dan geohidrologi.

C. Hubungan Dengan Ilmu Geologi Lain.

Geologi struktur ini sangat berkaitan dengan bidang ilmu geologi lain, seperti geologi fisik & dinamik, geomorfologi, sedimentologi, petrologi, geologi teknik, geohidrologi, geofisika, dll. Tanpa mengaitkan geologi struktur dengan ilmu geologi lain, maka akan kesulitan dalam mengkaji suatu masalah.

Contoh – contoh kaitannya dengan cabang ilmu geologi lain adalah :

  1. Bersama stratigrafi, sedimentologi, dan paleontologi, mempelajari struktur tektonik. Juga mempelajari tentang perlapisan batuan, mengenai penyebaran, komposisi, ketebalan, umur, dan lainnya.
  2. Bersama petrologi dan geokimia, mempelajari asal – usul struktur dan metodenya.
  3. Bersama geomorfologi, mempelajari aktivitas struktur geologi yang sedang terjadi.
  4. Bersama geofisika, oseanografi, dan geologi bawah tanah, mempelajari struktur bawah tanah dan struktur dasar laut.
  5. Bersama geologi ekonomi, mempelajari hitungan nilai ekonomis mineral.
  6. Bersama fisiografi, mempelajari bentuk batuan dan mineral beserta prosesnya.
  7. Bersama geomedical, mempelajari kawasan bencana geologi untuk kesehatan masyarakat.

D. Cara Mempelajari Geologi Struktur.

Dalam mempelajari geologi struktur ini memerlukan beberapa cara, agar geologi struktur dapat dipelajari dengan lebih mudah. Beberapa cara antara lain sebagai berikut :

  1. Mempelajari pengetahuan 3 dimensi seperti bidang arsitektur.
  2. Menggunakan peta topografi, gambarfoto, dan imej lain seperti satelit dan radar.
  3. Kerja lapangan, yaitu terjun langsung ke lapangan. Misal mengenali kepastian, pengukuran, dan penafsiran langsung lapangan.
  4. Mengaitkan hubungan struktur kecil dengan struktur besar di lapangan. Biasanya setiap struktur kecil berpengaruh besar terhadap struktur besar yang ada.

E. Penampilan Struktur Secara Geometris.

Deskripsi geometri adalah penggambaran suatu obyek secara tepat, serta merupakan cara pemecahan problema ruang secara grafis. Cara yang digunakan adalah proyeksi ortografi, proyeksi perspektif, dan proyeksi stereografi. Yaitu pengubahan bentuk dan posisi suatu obyek dalam 3 dimensi menjadi gambaran 2 dimensi.

1. Proyeksi Ortogonal :

Yaitu penggambaran obyek dengan garis proyeksi dibuat saling sejajar dan tegak lurus terhadap bidang proyeksi.

2. Proyeksi Perspektif :

Yaitu proyeksi suatu obyek terhadap suatu titik. Pada dasarnya adalah cara penggambaransuatu obyek pada suatu bidang tertentu, bila obyek tersebut dilihat dari suatu titik. Hal ini didasari oleh akibat gejala pandangan, dimana besaran dari obyek berubah bila dilihat dari jarak dan posisi yang berbeda, misal proyeksi kutub.

3. Proyeksi Stereografis :

Yaitu penggambaran didasarkan kepada perpotongan garis atau bidang dengan permukaan bola.

Penerapan geometris terhadap struktur – struktur geologi, merupakan suatu usaha dalam penafsiran. Masih menjadi pertanyaan apakah dibenarkan kita menggunakan bentuk – bentuk geometri tertentu untuk menggambarkan hubungan struktur yang sebenarnya antara bentuk batuan yang satu dengan batuan yang lain, atau didalam batuan itu sendiri.

Unsur geometri utama dalam struktur – struktur geologi adalah bidang – bidang dan garis – garis. Mereka tidak saja sebagai batas – batas luar dari suatu batuan, tetapi juga memberikan pola unsur – unsur struktur didalam batuan itu sendiri, seperti perlapisan, rekahan dan sebagainya.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.