ETIKA PERTAMBANGAN PADA INDUSTRI MINERAL LOGAM

3 11 2010

ETIKA PERTAMBANGAN

PADA INDUSTRI MINERAL LOGAM

PENDAHULUAN

Industri mineral merupakan salah satu kepentingan ekonomi di seluruh dunia, dimana di dalamnya termasuk usaha pertambangan yang diharapkan berwawasan lingkungan sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Secara global, ekonomi industri telah digunakan sebagai suatu sistem sumber daya terbuka melalui pemanfaatan bahan baku mineral dan energi; dengan pembuangan limbah berdampak pencemaran terhadap lingkungan. Tantangan yang dihadapi oleh komunitas global saat ini adalah membuat ekonomi industri lebih mengarah kepada sistem tertutup dengan sasaran: penghematan energi, mengurangi limbah, mencegah pencemaran, dan mengurangi biaya (UNO, 1995). Salah satu unsur penting yang diangkat dalam topik kali ini adalah : Limbah industri harus dianggap sebagai bahan baku berharga yang dapat diolah lebih lanjut atau dengan kata lain didaur ulang.

LIMBAH / TAILING PERTAMBANGAN

Limbah pertambangan atau disebut sebagai tailing merupakan residu yang berasal dari sisa pengolahan bijih setelah target mineral utama dipisahkan dan biasanya terdiri atas beraneka ukuran butir, yaitu: fraksi berukuran pasir, lanau, dan lempung. Secara umum pembuangan tailing dilakukan di lingkungan darat yaitu pada depresi topografi atau penampung buatan, sungai atau danau, dan laut. Secara mineralogi tailing dapat terdiri atas beraneka mineral seperti silika, silikat besi, magnesium, natrium, kalium, dan sulfida. Dari mineral-mineral tersebut, sulfida mempunyai sifat aktif secara kimiawi, dan apabila bersentuhan dengan udara akan mengalami oksidasi sehingga membentuk garamgaram bersifat asam dan aliran asam mengandung sejumlah logam beracun seperti As, Hg, Pb, dan Cd yang dapat mencemari atau merusak lingkungan.

Ketika tailing dari suatu kegiatan pertambangan dibuang di dataran atau badan air, limbah unsur pencemar kemungkinan tersebar di sekitar wilayah tersebut dan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Bahaya pencemaran lingkungan oleh arsen (As), merkuri (Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd) mungkin terbentuk jika tailing mengandung unsur-unsur tersebut tidak ditangani secara tepat. Terutama di wilayah-wilayah tropis, tingginya tingkat pelapukan kimiawi dan aktivitas biokimia akan menunjang percepatan mobilisasi unsur-unsur berpotensi racun.

Salah satu akibat yang merugikan dari arsen bagi kehidupan manusia adalah apabila air minum mengandung unsur tersebut melebihi nilai ambang batas; dengan gejala keracunan kronis yang ditimbulkannya pada tubuh manusia berupa iritasi usus, kerusakan syaraf dan sel.

Tailing yang berasal dari proses amalgamasi bijih emas memungkinkan limbah merkuri tersebar di sekitar wilayah penambangan dan dapat membentuk pencemaran lingkungan oleh merkuri organik atau anorganik. Pencemaran akan semakin membahayakan kesehatan manusia apabila unsur merkuri dalam badan air berubah secara biokimia menjadi senyawa metil-merkuri. Terdapat beraneka jenis mekanisma oleh mikro-organisma yang dapat membentuk spesies metil-merkuri bersifat racun, terutama apabila dimakan oleh ikan. Pengaruh organik merkuri terhadap kesehatan manusia termasuk hambatan jalan darah ke otak dan gangguan metabolisma dari sistem syaraf. Sedangkan pengaruh racun merkuri nonorganik adalah kerusakan fungsi ginjal dan hati di dalam tubuh manusia.

DISKUSI

Bertolak dari diperolehnya informasi tentang bahaya limbah industri mengandung unsur As, Hg, Pb, dan Cd yang dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan manusia; maka timbul pemikiran tentang kemungkinan kejadian hal serupa pada kegiatan usaha pertambangan bahan galian logam, terutama dalam kaitannya dengan pembuangan tailing dari sisa pengolahannya. Secara alamiah, tailing terdiri dari beraneka jenis dan biasanya dibuang dalam bentuk bubur (slurry) dengan kandungan air tinggi. Tailing kemungkinan juga disusun oleh bahan-bahan kering berbutir kasar berbentuk fraksi mengapung yang berasal dari pabrik pengolahan. Pembuangan tailing merupakan masalah besar bagi lingkungan, yang menjadi lebih serius apabila keberadaannya berkaitan dengan peningkatan eksploitasi dan akibat pengolahan bahan galian logam. Dampak terhadap ekologi terutama berupa pencemaran air oleh bahan-bahan padat, logam berat, kimiawi, senyawa belerang, dan lain-lain. Perkembangan penggunaan metoda pembuangan terjadi karena timbulnya dampak terhadap lingkungan, perubahan dalam proses pengolahan dan realisasi untuk mendapatkan keuntungan produksi. Metode konvensional yang masih dilakukan oleh pelaku usaha pertambangan hingga saat ini adalah pengaliran tailing ke dalam badan sungai dan atau pembuangan di atas tanah setelah melalui pengeringan. Teknik-teknik lain kemudian dikembangkan karena banyak kerusakan yang ditimbulkan akibat penggunaan metode tersebut. Semakin banyak diperlukannya bijih berbutir lebih halus, maka diperlukan cara yang paling tepat dalam pengolahan ulang tailing untuk dapat menciptakan nilai tambah produksi. Pada beberapa penambangan bawah permukaan, tailing biasa digunakan untuk menimbun daerahdaerah bekas penambangan. Tailing juga digunakan untuk back-filling dalam suatu kegiatan pertambangan dengan terlebih dahulu melalui pemisahan karena tidak semua jenis tailing dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisi bukaan-bukaan. Tailing dapat saja mengalami pemuaian atau pengerutan setelah digunakan untuk pengisi bukaan, dan juga memiliki sifat sebagai perekat sehingga sangat bermanfaat untuk kegiatan penyemenan pada penambangan bawah permukaan. Tailing juga ditimbun sementara selama masa penambangan sedang berlangsung dan kemudian ditampung dalam bendungan. Pembuatan tempat penimbunan/bendungan harus dalam kondisi aman dan ekonomis untuk menampung volume tailing serta berfungsi sebagai pengendali pencemaran lingkungan. Masalah serius yang timbul dari pembuangan tailing adalah terutama berkaitan dengan pembebasan air tercemar akibat pelarutan logam-logam berat (diantaranya As, Hg, Pb, dan Cd), keasaman (pH rendah), bahan kimia/reagen dari pabrik pengolahan dan bahan-bahan suspensi yang dapat membentuk zat padat. Secara mineralogi, mineral pengotor alkali dalam tailing sering berperan sebagai pengendali pencemaran yang alamiah; dimana salah satunya adalah peranan kalsium (Ca) dalam batugamping yang dapat mempermudah pelarutan logam-logam dan menetralisir hasil oksidasi. Proses pemurnian tailing juga sering dilakukan dengan cara pengapuran dengan tujuan untuk menetralisir keasaman, sehingga mendorong terjadinya flokulasi (penggumpalan) dan pengendapan logam-logam berat (berbentuk hidroksida) sebelum dialirkan ke dalam bendungan. Penanganan tailing melibatkan proses pengentalan dan pengaliran cairan serta pembebasan logam-logam berat, kemudian dikembalikan ke pabrik pengolahan sehingga mengurangi pasokan air dan bahan-bahan pencemar/polutan dalam bendungan tailing.

 

KESIMPULAN

Tailing dari suatu usaha pertambangan logam menjadi pusat perhatian ketika pembuangannya dilakukan tanpa memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Lebih jauh lagi apabila tailing tersebut mengandung unsur-unsur berpotensi racun seperti arsen (As), merkuri (Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd), sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dengan akibat yang merugikan bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu diperlukan penerapan program perlindungan terhadap lingkungan melalui pengembangan: metode penambangan dan pengolahan; sistem penanganan dan daur ulang tailing; rancangan konstruksi penampung tailing dan pengawasan pembuangannya; serta pencegahan pencemaran oleh unsur-unsur berpotensi racun dimaksud.

Kemudian perlu penindakan tegas atas kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan dalam kebijakan pertambangan dan etika pertambangan. Diantaranya UU UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang, UU Pertambangan Mineral dan Batubara, UU No. 11 Tahun 1967 Tentang Pertambangan Umum.

Dengan diberlakukannya secara tegas perundang-undangan yang telah ada merupakan upaya preventif untuk mencegah kerusakan lingkungan dan menciptakan etika pertambangan yang sesuai dengan aturan yang berlaku.

UPAYA

  1. Diperlukan upaya penegakan hukum terhadap masyarakat/pengusaha yang tidak memiliki surat ijin kegiatan penambangan. Upaya penegakan hukum ini diberlakukan sesuai perundang-undangan yang berlaku dan bersifat tegas serta tidak memihak. Sangsi yang diberikan kepada penambang liar dimaksudkan untuk merelokasi aktivitas penambangan pada daerah-daerah terlarang oleh kegiatan penambangan agar tidak terjadi kerusakan lingkungan yang semakin parah dan diharapkan pemberian sangsi akan menciptakan asumsi negatif terhadap upaya penegakan hukum yang lemah.
  2. Perlu dilakukan upaya pendekatan perencana program yang mampu menciptakan keserasian dan kesesuaian antar tujuan-tujuan program/kebijakan dengan kebutuhan kelompok sasaran. Dengan dipenuhinya persyaratan-persyaratan ini maka akan dapat dipastikan resiko kegagalan pelaksanaan program atau penolakan dari kelompok sasaran dapat diminimalkan.
  3. Perlunya dilakukan restrukturisasi dan revitalisasi kebijakan sektor lainnya. Hal ini dilakukan karena kebijakan pertambangan bukan merupakan sektor yang riil dan aktual.
  4. Perlu dilakukan identifikasi ulang terhadap model program yang tepat, riil dan faktual sesuai dengan prilaku/trend (kecenderungan) ekonomi masyarakat Kabupaten Bangka saat ini dan pasca timah, Hal ini dalam upaya pengembangan ekonomi alternatif dan upaya mengalihkan pekerjaan masyarkat dari ketergantungan pada sektor pertambangan ke sektor lainnya pasca ekonomi timah.




Penelitian Geologi Teknik dan Lingkungan

3 11 2010

Penelitian Geologi Teknik dan Lingkungan

Kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen Kabupaten Kediri

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penyelidikan Geologi Teknik dan Lingkungan di Kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri di lapangan dan pengolahan data-data yang ada dan yang diperoleh maka dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai rekomendasi yang akan dianjurkan bagi pihak yang berkepentingan guna dapat dijadikan pedoman untuk melakukan pengembangan wilayah berdasarkan pada kondisi geologi.

  1. Dari hasil penyelidikan lapangan dan kompilasi data yang telah ada, wilayah penelitian memiliki potensi sumberdaya geologi berupa Bahan Galian Golongan C (pasir dan batu) yang berlimpah. Selain bahan galian, wilayah penyelidikan juga memiliki potensi berupa objek wisata.
  2. Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan dan kompilasi data sekunder, beberapa  bencana geologi yang mengancam wilayah penelitian diantaranya adalah : Erosi, Gerakan Tanah, Erupsi Gunung Api, dan Banjir.

Secara khusus arahan rekomendasi pengembangan wilayah telah dijelaskan pada masing-masing unit geologi lingkungannya diatas. Secara umum dapat kita bagi rekomendasi pengembangan wilayah di wilayah Kecamatan Semen dan Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, diantaranya adalah: Hutan Kering Sekunder yaitu pada wilayah morfologi satuan pegunungan sangat terjal; daerah perkebunan dan ladang pada daerah dengan morfologi satuan pegunungan terjal dan perbukitan agak terjal. Sedangkan untuk pemukiman wilayah dengan morfologi dataran dan lereng gunungapi adalah yang paling baik.

 

SARAN

Saran yang dapat disampaikan berkenaan dengan hasil penyelidikan Geologi Teknik dan Lingkungan di Wilayah kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri adalah:

  1. Pelaksanaan kebijakan yang tegas dan tepat dari pemerintah daerah terhadap kondisi penggalian-penggalian yang terdapat di wilayah lereng, agar tidak mengalami kerusakan lingkungan, sehingga dapat dimanfaatkan lebih optimal.
  2. Diperlukan kerjasama dan penggabungan data dari berbagai pihak serta instasi terkait untuk lebih menyempurnakan proses penyusunan rencana pengembangan wilayah di wilayah Kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Pemanfaatan data hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam usaha penyusunan Rencana Tata Ruang Daerah, dalam hal ini yang berhubungan dengan potensi wilayah (potensi sumberdaya geologi) dan kerawanan bencana.





Georadar Field Trip

6 05 2010

Pengamatan yang menghasilkan data yang ada dilakukan disekitar komplek kampus MIPA jurusan Biologi UGM UGM.

KESIMPULAN

Dari keseluruhan data yang diambil dan dihubungkan dengan dasar teori yang sudah ada, serta interpretasi yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Anomali dalam pengukuran geofisika merupakan pencerminan dari keadaan geologi yang ada, yang sangat tergantung dari kontras sifat fisis.
  2. Sifat-sifat keelektrikan batuan dipengaruhi oleh komposisi mineral batuan dan fluida.
  3. Jika kedalaman permukaan pantul tidak diketahui, pengukuran WARR dapat digunakan untuk menetukan cepat rambat.
  4. Karena kedalaman pengukuran survey georadar yang dangkal, maka metode georadar ini jarang sekali digunakan untuk eksplorasi mineral ekonomis.
  5. Lokasi pengamatan yang telah dilakukan pengukuran merupakan sebuah jalan kecil diatas aspal dengan melewati selokan besar tanpa air..
  6. Litologi lapisan yang diamati berdasar penampang dan lokasi pengamatan maka didapat lapisan pertama berupa tanah kering.
  7. Litologi lapisan kedua berupa udara pada selokan besar.




Geology Structure Field Trip

6 05 2010

Field trip geologi struktur dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 16 Desember 2006 mengambil lokasi di Zona Kendeng atau secara administratif termasuk dalam kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Daerah ini tercantum pada peta topografi skala 1 : 25.000 lembar 49 / XL – n dan berada di sebelah Timur waduk Kedung Ombo.

KESIMPULAN

  1. Struktur umum yang dijumpai pada lokasi pengamatan berupa kekar, sesar, serta adanya perlipatan (baik berupa antiklin maupun sinklin)
  2. Litologi yang  terdapat pada daerah ini umumnya batupasir yang bersifat karbonatan dan batulanau-lempung.
  3. Pada daerah ini dijumpai struktur-struktur geologi berupa kekar, sesar, serta perlipatan (baik berupa antiklin maupun sinklin) yang berarah utara – selatan, sepanjang kurang lebih 300 m. Adapun arah-arah gaya utamanya juga berasal dari utara – selatan. Sesar-sesar yang dijumpai berupa sesar, baik sesar naik maupun Turín, baik itu mayor maupun minor. Tapi pada daerah ini lebih dominant berupa sesar minor.
  4. Beberapa lokasi pada stasiun pengamatan 2, terdapat urat-urat (vein) yang terisi oleh mineral-mineral karbonat. Vein merupakan rekahan-rekahan yang terisi oleh mineral-mineral.
  5. Pada satu lokasi pengamatan di STA 2 terdapat microfold yang terbentuk akibat lapisan batuan yang dikerutkan akibat adanya gaya tarik bumi.
  6. Arah gaya pembentuk struktur kekar yang terjadi di lokasi pengamatan pertama adalah sebagai berikut :
    • σ1 : 810 / N 3100 E
    • σ2 : 70 / N 860 E
    • σ3 : 70/N 1790 E
  7. Pada lokasi pengamatan 12 dilakukan pengukuran slope sebesar 210.





GFD & Krismin Field Trip

6 05 2010

Field Trip Geologi Fisik & Dinamik dan Kristalografi Mineralogi

Lokasi field trip geologi fisik dan geologi dinamik ini mengambil tempat di sekitar Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Field trip ini dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2005, kami berangkat dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada pukul 07.30 WIB. Stasiun pengamatan pada field trip ini dibagi menjadi lima. Stasiun pertama yang kami tuju yaitu Sungai Progo, setelah melakukan pengamatan di stasiun ini kami melanjutkan perjalanan ke stasiun kedua. Stasiun kedua ini dibagi menjadi dua lokasi pengamatan sehingga rombongan dibagi menjadi dua. Lokasi pengamatan yang pertama kali kami amati berada di ladang jagung penduduk yang terletak di sebelah tenggara Watumurah dekat Gunung Mudjil. Lokasi pengamatan kedua terletak di tepi jalan, yang berada di sebelah tenggara Watumurah dan sebelah baratdaya Kenteng dimana di situ dilakukan plot lokasi yang diukur terhadap Gunung Mudjil dan Gunung Prau. Setelah itu kami melanjutkan ke stasiun pengamatan ketiga, stasiun ini terletak di Desa Dengok Kecamatan Nanggulan, Sleman, Yogyakarta. Stasiun ini juga dibagi menjadi dua lokasi pengamatan. Kemudian kami menuju ke stasiun keempat, stasiun ini terletak di Desa Sangon,  Kulonprogo. Stasiun ini juga dibagi menjadi dua lokasi pengamatan yaitu yang pertama kami amati adalah tambang emas rakyat dan yang kedua yaitu di salah satu aliran sungai di Desa Sangon. Kemudian kami menuju ke stasiun pengamatan selanjutnya yaitu stasiun kelima sekaligus stasiun terakhir yang kami kunjungi. Stasiun kelima ini terletak di Pantai Glagah sebelah selatan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah selesai melakukan pengamatan di kelima stasiun tersebut kami kembali ke kampus teknik Universitas Gadjah Mada.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan pada saat field trip dapat disimpulkan antara lain :

  1. Indonesia  sangat berpotensial sebagai negara penelitian karena memiliki kelengkapannya dalam geomorfologinya, litologinya, dan atau proses geologinya.
  2. Kita dapat memahami bahwa banyak sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan Indonesia.
  3. Kulon Progo menjadi salah satu daerah yang dapat dimanfaatkan bagi Universitas – universitas yang ada di Yogyakarta untuk penelitian maupun kuliah lapangan.
  4. Di Yogyakarta, khususnya di Kulon Progo banyak sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk kelangsungan hidupnya.
  5. Dengan diadakannya fieldtrip ini, dapat memacu para mahasiswa untuk dapat menimba ilmu lebih tinggi agar dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Selama melakukan pengamatan dan penelitian di stasiun – stasiun pada field trip di Kulon Progo ini, kita dapat menjumpai bentuk – bentuk morfologi yang berbeda – beda dari setiap stasiun pengamatan yang berasal dari formasi batuan yang berbeda pula. Walaupun terdapat perbedaan pada morfologinya, litologi pada masing – masing daerah pengamatan hampir sama. Potensi geologi yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar juga banyak dan bermacam – macam. Terdapat juga bermacam – macam mineral yang terdapat dalam satu batuan yang sama. Contohnya dapat dilihat di stasiun pertama, mineral plagioklas dapat berasosiasi dengan hornblende, orthoklas, kuarsa, dan mineral – mineral felsic yang terdapat pada batu andesit yang sama. Sehingga kita mampu mempelajari mineral – mineral secara lebih kompleks. Untuk mineral kuarsa ditemukan hampir di seluruh stasiun pengamatan.





6th Stratigraphy Analysis

6 05 2010

Petrologi batuan Sedimen klastik untuk Analisa Stratigrafi

Debriadi Harset (30533)

Rizal Abiyudo (30718)

Bhima Suhardiyansyah (30747)

Mahasiswa Teknik Geologi FT UGM, Jl. Grafika 2, Yogyakarta 55281


Sari

Stratigrafi termasuk bagian dari disiplin ilmu geologi yang terfokus pada bentuk, susunan, distribusi geografi, rangkaian kronologi, klasifikasi, korelasi, dan hubungan dari lapisan batuan, khususnya sedimen, disebut pula stratigrafi geologi (Sybil P. Parker, 1984).

Batuan sedimensecara umum terbentuk dari  proses – proses yang antara lain nya , Batuan sedimen dari proses mekanik, Batuan sedimen dari proses biologi, Batuan sedimen dari proses kimiawi.

Batuan sedimen yang terbentuk dari proses mekanik sering disebut dengan batuan sedimen klastik. Batuan ini terbentuk dari hasil rombakan batuan yang sudah ada sebelumnya. Batuan tersebut dapat diklasifikasikan dengan berdasarkan ukuran butirnya, mulai dari yang berukuran halus dengan kasar, yang antara lain, lempung, lanau, pasir, kerikil, kerakal, berangkal, dan bongkah.

Dengan mengetahui petrologi, baik tekstur maupun komposisi dari batuan sedimen klastik tersebut, maka dapat digunakan untuk analisa dari stratigrafi yang ada, hal tersebut menyangkut asal- mula jadi atau originnya.

I. Pendahuluan

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh deposisi sedimen yang terkonsolidasi dalam sebuah lapisan (Sybil P. Parker, 1984). Sedimentary rocks are the product of the creation, transport, deposition, and diagenesis of detritus and solutes derived from pre-existing rocks (Kendall, Chris., ___).

Petrologi batuan sedimen adalah deskripsi dan klasifikasi batuan sedimen. Disebut juga sedimentography (Sybil P. Parker, 1984).

Stratigrafi analisa adalah

Maksud dari stratigrafi ini adalah untuk :

  • Pemerian secara obyektif dan lengkap dari komponen penyusun tubuh batuan, baik secara vertikal maupun secara lateral.
  • Penentuan jenis dan macam hubungan antar komponen.

Sedang tujuan dari pembelajaran ini adalah :

Rekonstruksi proses, pengaruh kondisi organis dan anorganis, tempat, serta perkembangannya dalam:

-          ruang : Paleogeografi

-          waktu : Sejarah geologi

II. Petrologi Batuan Sedimen Klastik

Asal dari pemahaman petrologi ini

The origin of the

Tekstur yang menyangkut ukuran butir, bentuk butir, sortasi, kemas, dapat mengetahui pengendapannya di dalam atau di luar cekungan serta sejarah transportasinya. Tekstur batuan sedimen klastik dibentuk secara primer oleh proses fisika sedimentasi dan dianggap menghasilkan ukuran butir, bentuk ( kebundaran, tekstur permukaan) dan kemasan ( orientasi butir dan hubungan butir ).

Ukuran butir partikel sedimen penting dalam beberapa hal. Ukuran butir mencerminkan :

-           Resistensi partikel terhadap pelapukan, erosi dan abrasi. Partikel – partikel yang luak seperti batugamping dan fragmen – fragmen batuan makin lama makin mengecil, bahkan partikel kuarsa yang besar dan resistensi akan terabrasi dan berubah ukurannya.

-           Proses transportasi dan deposisi seperti kemampuan air, angin untuk menggerakkan dan mengendapkan partikel.

Pada skala geometri berkembang banyak skala ukuran butir atau skala kelas, tetapi skala yang digunakan hampir universal oleh sedimentologis adalah skala Udden Wenworth. Skala ini pertama kali diajukan oleh Udden pada 1898 dan dimodifikasi dan ditambah oleh Wenworth pada 1922. Skala ini berkisar dari < 1/256 mm sampai >256 mm dan dipisahkan ke dalam 5 kategori ukuran utama yaitu lempung, lanau, pasir dan kerakal.

Komposisi penyusun berdasarkan kehadiran mineral – mineral tertentu,  bersama dengan tekstur dapat mengetahui diagenesa apajkah telah terganti atau terubaha atau tidak.

Tekstur

Pada ukuran butir, mempunyai pengaruh terhadap energi pengendapannya. Semakin besar ukuran  butir, maka kemungkinan batuan sedimen klastik tersebut terendapkan membutuhkan energi yang besar, atau arus yang kuat, dapat juga tidak jauh dari sumber. Sebaliknya, semakin kecil atau halus ukuran butir, maka kemungkinanan batuan sedimen klastik tersebut terendapkan membutuhkan energi yang lemah, atau arus yang kecil, dapat juga  dekat dengan  sumber. Secara teoritis ukuran butir makin ke hilir akan semakin halus dengan catatab bahwa batuan sumber dari sedimen tersebut adalah sama dan faktor lain yang tetap konstan. Berkurangnya ukuran butir disebabkan  adanya abrasi pada butiran selama abrasi. Abrasi merupakan proses yang bekerja secara aktif sehingga mengakibatkan  ukuran partikel makin ke hilir makin kecil ( Pettijohn, 1975 h.45 ). Penurunan ukuran butir tidak semata – mata disebabkan oleh abrasi tapi juga merupakan refleksi dari penurunan kompetensi sungai dan yang diakibatkan oleh penurunan gradien sungai.

Tabel.Skala wenworth

Oleh Boggs (1987) dikatakan derajat kebundaraan (roundness) adalah sifat bentuk partikel yang berhubungan dengan ketajaman atau kelengkungan tepi dan pojok-pojoknya. Derajat kebundaraan (roundness) sendiri dipengaruhi oleh ukuran material, komposisi, tipe transportasi dan jarak transportasi. Mineral yang memiliki ketahanan fisik tinggi (kuarsa dan zirkon) akan memiliki nilai roundness yang lebih besar  dari pada mineral yang memiliki daya  tahan yang rendah (feldspar dan piroksen). Material yang lebih besar (pebble dan cobble) cenderung memiliki harga roundness yang lebih besar dari material  yang lebih kecil (pasir) (hal.127).

Tingkat kebolaan juga berpengaruh, sphericity adalah ukuran yang menggambarkan kecenderungan suatu bentuk butir kearah bentuk membola (Tucker, 1991).Sedang Boggs (1987) mengatakan derajat kebolaan (sphericity) adalah ukuran yang menggambarkan kecenderungan suatu butiran ke arah bentuk membola. Variabel yang paling mengontrol sphericity adalah bentuk asal dari butiran tersebut (hal. 125). Selama proses transportai ukuran butir dari partikel -  partikel mengecil dan bentuk permukaannya termodifikasi dengan dikontrol oleh bentuk asal dan kekuatan dari abrasi arus yang mengangkutnya. Proses transportasi ini berlangsung secara memilih, yaitu pengelompokan partikel – partikel berdasarkan ukuran dan bentuk butirnya. Material yang nonsperikal cenderung lebih lama berada dalam cairan dari pada material yang lebih sperikal.

Untuk nilai roundness akan bertambah tinggi seiring dengan pertambahan waktu (durasi) sedimentasi dan jarak transportasi, misalnya dari hulu ke hilir. Nilai roundness juga dapat menentukan tingkat abrasi yang terjadi, yang juga berhubungan dengan tingkat resistensi batuan. Tingkat abrasi yang intensif akan menyebabkan nilai roundness semakin tinggi. Sedang nilai sphericity akan bertambah tinggi apabila bentuk butiran semakin menyerupai bola atau semakin well rounded. Tetapi pada perhitungan sphericity ini, Boggs (1987) mengatakan bahwa hasil perhitungan sphericity yang sama terkadang dapat diperoleh pada semua bentuk butir.

Semakin bagus sortasi atau tingkat keseragaman ukuran butirnya tinggi , maka menandakan pengendapan batuan sedimen klastik tersebut dengan energi homogen atau sama, sebaliknya bila sortasi buruk, dengan artian ada keragaman ukuran butir, dengan adanya fragmen dan matriks, menandakan energi  pengendapan yang heterogen atau tidak sama. Porositas batuan juga dapat dianalisa dari adanya sortasi ini. Semakin bagus sortasinya, maka porositasnya semakin tinggi, begitu sebaliknya. Hal ini dapat untuk aplikasi pada dunia perminyakan.

Kemas pada batuan sedimen klastik juga dapat menentukan asal mula pengendapannya dengan didasarkan pada kondisi alirannya atau tipe arus yang mengenainya. Pada kemas terbuka, dapat terbentuk pada proses pengendapan yang cepat, dalam hal ini pada pengendapana dengan arus turbit. Sedangkan pada kemas tertutup dapat terbentuk pada proses pengendapan dengan kecepatan yang relatif rendah, bertahap, seperti pada pengendapan dengan arus traksi.

Komposisi penyusun

Komposisi mineralogi pada batuan sedimen merupakan cerminan yang dapat dijadikan untuk mengetahui keberadaan dan tipe batuan sumbernya (studi provenance).

Tingkat maturity  batuan sedimen klastik dapat dilihat dari adanya kuarsa, mineral lempung, matriks

Semakin kecil kandungan  lempungnya, maka tingkat kematangan batuan sedimen itu semakin tinggi, begitu sebaliknya.

Kandungan kuarsa derngan dibandingkan mineral yang lain juga dapat menentukan provenance (asal mula) serta tingkat pengendapannya dengan sumber. Kuarsa paling atabil, sehingga bila masih ada ditemukan mineral – mineral seperti olivin piroksen, felspar, ortoklas pada batuan sedimen klastik maka kemungkinan terendapkan belum jauh dari sumber.

III. kesimpulan

Komposisi mineralogi pada batuan sedimen merupakan cerminan yang dapat dijadikan untuk mengetahui keberadaan dan tipe batuan sumbernya (studi provenance).





5th Stratigraphy Analysis

6 05 2010

Rekaman Stratigrafi untuk Analisis Geologi Suatu Daerah

Debriadi Harset (30533)

Rizal Abiyudo (30718)

Bhima Suhardiyansyah (30747)

Mahasiswa Teknik Geologi FT UGM, Jl. Grafika 2, Yogyakarta 55281


Sari

Stratigrafi termasuk bagian dari disiplin ilmu geologi yang terfokus pada bentuk, susunan, distribusi geografi, rangkaian kronologi, klasifikasi, korelasi, dan hubungan dari lapisan batuan, khususnya sedimen, disebut pula stratigrafi geologi (Sybil P. Parker, 1984). Ilmu geologi terbagi menjadi dua, yaitu geologi fisik dan geologi sejarah. Stratigrafi rekaman adalah bagian dari disiplin ilmu geologi yang termasuk dalam cabang geologi sejarah.

Rekaman stratigrafi adalah suatu data, tampilan dari urutan-urutan lapisan yang berisikan informasi mengenai  litologi batuan, struktur sedimen, tekstur, fosil-fosil yang terkandung, fasies pengendapan, ulangan batuan  dan kontak antar tiap lapisan batuan yang dapat menceritakan sejarah geologinya.

Rekaman stratigrafi memiliki kegunaan – kegunaan dalam analisa geologi suatu daerah, yang antara lain untuk mengekspresikan fasies pengendapan; menunjukkan non depositional surface, ketidakselarasan atau bidang erosi; menggambarkan  rock cycle; enunjukkan suatu lingkungan pengendapan, Menunjukkan  adanya perubahan lingkungan pengendapan.

I. Pendahuluan

Stratigrafi adalah suatu cabang geologi yang mempelajari tentang bentuk, susunan, distribusi geografi, rangkaian kronologi, klasifikasi, korelasi, dan hubungan dari lapisan batuan, khususnya sedimen, disebut pula stratigrafi geologi (Sybil P. Parker, 1984). Selain itu pengertian lainnya stratigrafi adalah ilmu yang mempelajari lapisan batuan yang diendapkan di bumi. Stratigrafi termasuk bagian dari disiplin ilmu geologi, yang tiap lapisannya dapat menceritakan sejarah geologinya berdasarkan waktu masing – masing.

Ilmu geologi terbagi menjadi dua, yaitu geologi fisik dan geologi sejarah.

Geologi fisik adalah cabang dari geologi yang terfokus pada pengertian komposisi – komposisi bumi dan perubahan fisik yang terjadi berdasarkan pembelajaran tentang batuan, mineral – mineral, dan endapan – endapan, struktur serta formasi – formasinya (Sybil P. Parker, 1984).

Geologi sejarah merupakan integrasi dari urutan  perkembangan proses dan tempat pembentukan batuan yang ada, perkembangan tektonik yang terjadi serta proses eksogenik yang menjadikan kenampakannya seperti yang terlihat pada masa kini pada suatu daerah tertentu (Wartono, 2001). Selain itu geologi sejarah berarti cabang dari geologi yang terfokus pada pembelajaran secara sistematis pada lapisan – lapisan batuan dan hubungannya dalam suatu waktu serta pembelajaran fosil dalam suatu sekuen lapisan batuan tersebut (Sybil P. Parker, 1984).

Stratigrafi rekaman adalah bagian dari disiplin ilmu geologi yang termasuk dalam cabang geologi sejarah. Pengertiannya adalah suatu data, tampilan dari urutan-urutan lapisan yang berisikan informasi mengenai  litologi batuan, struktur sedimen, tekstur, fosil-fosil yang terkandung, fasies pengendapan, ulangan batuan  dan kontak antar tiap lapisan batuan yang dapat menceritakan sejarah geologinya. Yang terpenting dalam rekaman stratigrafi ini adalah dapat mengekspresikan 5 hal, yaitu :

  1. Fasies pengendapan
  2. Non depositional surface, ketidakselarasan atau bidang erosi
  3. Rock cycle
  4. Suatu lingkungan pengendapan
  5. Adanya perubahan lingkungan pengendapan

II. Lingkungan Pengendapan

Ekspresi suatu lingkungan pengendapan dapat terlihat dalam stratigrafi rekaman seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Interpretasi dari rekaman stratigrafi dalam penentuan lingkungan pengendapan memerlukan beberapa unsur yang saling dikombinasikan satu sama lain yaitu :

-          Struktur sedimen

-          Analisa ukuran butir

-          Fosil (fosil utuh dan fosil jejak)

-          Sekuen vertikal , hubungan lateral

-          Geometri, penyebaran dari litologinya

Secara umum lingkungan pengendapan terbagi menjadi 3 tempat yaitu :

  1. Lingkungan pengendapan transisi
  2. Lingkungan pengendapan laut
  3. Lingkungan pengendapan darat

Lingkungan pengendapan darat

Gambar disamping merupakan contoh gambar urutan litologi pada lingkungan pengendapan darat, yaitu lingkungan sungai (braided stream). Braided stream umumnya mempunyai kedalaman yang dangkal dengan suplai sedimen yang besar (cenderung overloaded). Braided stream mempunyai ciri-ciri yaitu tubuh airnya terbagi-bagi oleh endapan sungai. Mekanisme transportasi adalah bedload dan suspended load. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola braided stream antara lain : jumlah suplai sedimen; bentuk channel; kecepatan arus; tekstur dasar sungai; serta iklim (Stepeld & Welman, 1975 dalam Davis, 1983).

Struktur sedimen yang terbentuk pada lingkungan pengendapan ini cukup  beraneka ragam. Secara garis besar (Miall,1977 dalam Davis 1883) membagi menjadi 3 kelompok, yaitu : planar cross stratified, trough cross stratified, & masif.

Menurut Miall, bentuk endapan sungai ini bisa berupa :

-          longitudinal bars

-          linguoid bars

-          transverse bars

Masih menurut Miall, terdapat 4 peristiwa pengendapan pada lingkungan ini, yaitu :

-          flooding

-          akresi lateral (pelebaran tubuh batuan)

-          channel agradation

-          reoccupation of channel (terjadinya arus yang memotong endapan sungai)

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pengendapan di lingkugan darat, antara lain :

1. Faktor fisik

Faktor fisik yang dimaksud adalah kecepatan fluida (media transportasi) atau kecepatan aliran sedimen. Kecepatan transportasi ini akan berpengaruh terhadap ukuran butir sedimen yang terangkut, tingkat sortai, struktur sedimen serta bentuk sedimen bodies. Selain itu ada faktor-faktor lain, yaitu :

-          jenis gerakan fluida : laminar flow dan turbulent flow

-          jenis mekanisme pengendapan : gravity , bedload, atau suspension load

-          banyak sedikitnya suplai sedimen

2. Faktor kimia, meliputi :

-          pH dari media transportasi

-          salinitas

-          temperatur

Selain faktor fisik dan kimia yang berasal dari fluida dan material yang tertransport ada beberapa faktor lain yang berpengaruh yaitu faktor cekungan. Faktor cekungan sedimen tersebut meliputi :

1. Dimensi

Besar kecilnya cekungan sedimen

2. Sifat Cekungan

Cekungan bersifat reduktif atau oksidatif. Sifat tersebut tergantung kepada ada tidaknya pergerakan fluida. Jika sirkulasi fluida naik, maka sirkulasi oksigen akan naik juga. Jika sirkulasi oksigen baik, maka lingkungan pengendapan bersifat oksidatif, sebaliknya akan bersifat reduktif. Sifat cekungan ini akan mempengaruhi jenis material sedimen / mineral-mineral yang terbentuk / terendapkan.

3. Morfologi cekungan sedimen

Morfologi ini akan mempengaruhi mekanisme transportasi nantinya . misalnya pada cekungan sedimen yang mempunyai lereng yang miring / curam. Aliran sedimen akan terpengaruh oleh gaya gravitasi.

4. Tektonik yang bekerja pada saat sedimentasi berlangsung

Jika cekungan sedimentasi memiliki tektonik yang aktif, maka akan merubah ruang akomodasi. Hal ini tentunya dapat menyebabkan perubahan dimensi cekungan sedimentasi. Misalkan pada cekungan sedimentasi yang bagian dasarnya mengalami penurunan (subsidence), serta diiringi dengan suplai sedimen yang cukup maka nantinya endapan sedimen yang terbentuk akan menjadi tebal. Perubahan cekungan tersebut juga akan mempengaruhi bentuk / morfologi endapan sedimen.

Mekanisme pengendapan juga mempunyai peranan yang penting karena berhubungan dengan proses transportasi yang terjadi. Mekanisme pengendapan darat yang terjadi meliputi :

1. Sediment gravity flow

Kadar air / fluida sedikit, jadi material padat lebih berperan, meliputi :

-          liquified sediment flows

-          grain flows

-          debris flows

-          slump

2. Traction flow

Pada mekanisme ini kadar air yang berpengaruh tinggi, fluida lebih berperan daripada material padat. Pada  traction flow, material sedimen bersinggungan dengan dasar sungai / cekungan. Meliputi :

-          sliding

-          rolling

-          saltation

3. Suspension flow

Material sedimen berukuran halus bercampur dengan air membentuk suspensi. Sedimen mengendap secara perlahan-lahan oleh pengaruh gaya gravitasi. Suspension flow terjadi pada daerah dengan arus yang tenang, misal : danau

III. Kegunaan Stratigrafi Rekaman

Kegunaan rekaman stratigrafi untuk analisis geologi suatu daerah adalah :

1. Mengekspresikan fasies pengendapan

Fasies adalah seluruh aspek dari suatu bagian permukaan bumi sepanjang interval yang pasti dari waktu geologi (Teichert, 1958 dalam facies models Walker, 1984). Pendapat lain mengatakan fasies adalah jangka waktu yang mengandung jumlah total dari aspek-aspek litologi dan paleontologi pada sebuah unit stratigrafi (Gressly, 1838 dalam facies models Walker, 1984).

Analisa fasies pengendapan diperoleh dari observasi geometri, litologi, fosil dan struktur sedimen yang dapat memberikan informasi tentang paleocurrent. Setelah itu dilakukan interpretasi tentang lingkungan pengendapan dan paleogeografi. Dari interpretasi kedua hal tersebut dapat menunjukan suatu fasies model. Sehingga dapat ditarik kesimpulan tentang lokasi, geometri dan aspek ekonomi.

Fasies pengendapan yang didapatkan dari rekaman stratigrafi, antara lain fasies (Walker, 1984) :

  1. glasial
  2. volkaniklastik
  3. alluvial
  4. fluvial
  5. eolian
  6. deltas
  7. g. barrier island
  8. shelf dan shallow marine
  9. i. turbidite
  10. trace fossil
  11. karbonat
  12. terumbu
  13. evaporit

2. Menunjukkan non depositional surface, ketidakselarasan atau bidang erosi

Kebanyakan lapisan – lapisan di permukaan menunjukkan waktu jeda yang sebentar. Jika waktu jedanya lama, maka disebut dengan unconformity. Hiatus merupakan waktu jeda yang hadir pada bidang unconformity. Terminologinya adalah indikasi adanya sesuatu yang hilang.  Semua unconformity dan hiatus mempunyai minimum time gap pada beberapa cekungan. Umur dari minimum time gap ini menunjukkan umur yang tepat / cocok dari  unconformity (Blackwelder, 1910).

Sedimen di antara  bidang discontinous tidak selalu ada di setiap tempat pada kisaran waktu yang sama, tetapi dapat membatasi antara umur dengan bidang ketidakmenerusan.

3. Menggambarkan  rock cycle

Proses ini merupakan proses di mana beragam variasi dari sedimen terendapkan  dalam sekuen umum yang berulang. Gambaran rock cycle ini kemudian berhubungan dengan lingkungan pengendapan serta arus pengendapan.

4. Menunjukkan suatu lingkungan pengendapan

Lingkungan pengendapan merupakan suatu tempat di muka bumi yang berupa cekungan yang dapat digunakan sebagai tempat teronggoknya material – material sedimen yang dipengaruhi oleh kondisi fisik, kimia, biologi.

5. Menunjukkan  adanya perubahan lingkungan pengendapan

Ada 2 hal yang berperan utama terhadap keadaan ini, yaitu accomodation space (ruang akomodasi) dan suplai sedimen. Adapun ruang akomodasi ini dapat terpengaruhi oleh tektonik dan perubahan muka air laut. Adanya kenaikan muka air laut terhadap daratan, sedimen akan diendapkan jauh ke arah daratan. Pola ini disebut Coastal onlap. Kenampakan secara vertikal, disebut coastal aggradation, merupakan jumlah kenaikan relatifnya. Mengesampingkan faktor dari pengaruh yang lain. Dengan kata lain sea level stand.

Bila pada rekaman stratigrafi memperlihatkan kenampakan coarsening upward, maka diinterpretasi telah terjadi regresi, yaitu endapan yang terbentuk relatif ke arah laut. Dengan kata lain , disebut juga progradasi.

Bila pada rekaman stratigrafi memperlihatkan kenampakan fining upward, maka diinterpretasi telah terjadi transgresi, yaitu endapan yang terbentuk relatif ke arah darat. Dengan kata lain, disebut juga retrogradasi.

III. Kesimpulan

  • Stratigrafi rekaman adalah bagian dari disiplin ilmu geologi yang termasuk dalam cabang geologi sejarah.
  • Rekaman Stratigrafi merupakan suatu data, tampilan dari urutan-urutan lapisan yang berisikan informasi mengenai  litologi batuan, struktur sedimen, tekstur, fosil-fosil yang terkandung, fasies pengendapan, ulangan batuan  dan kontak antar tiap lapisan batuan yang dapat menceritakan sejarah geologinya.
  • Rekaman stratigrafi sangat berguna dalam analisa geologi suatu daerah, yang antara lain untuk :

-          Mengekspresikan fasies pengendapan

-          Menunjukkan non depositional surface, ketidakselarasan atau bidang erosi

-          Menggambarkan  rock cycle

-          Menunjukkan suatu lingkungan pengendapan

-          Menunjukkan  adanya perubahan lingkungan pengendapan

  • Fasies pengendapan yang didapatkan dari rekaman stratigrafi, antara lain fasies (Walker,1984) glasial; volkaniklastik; alluvial; fluvial eolian; deltas; barrier island; shelf dan shallow marine; turbidite; trace fossil; karbonat; terumbu;evaporit.
  • Secara umum lingkungan pengendapan terbagi menjadi 3 tempat, yaitu lingkungan pengendapan transisi; lingkungan pengendapan laut; lingkungan pengendapan darat.
  • Perubahan lingkungan pengendapan meliputi transgresi (increasing accomodation space) yang sebanding dengan retrogradasi dan regresi (decreasing accomodation space) yang sebanding dengan progradasi.







Follow

Get every new post delivered to your Inbox.